Adonan Nikmat Pengusaha Bakery

Tiga M, inilah simbol kelas menengah saat ini. Magnum, Macchiato dan Mobile, selalu terkoneksi dengan internet melalui gadget dan smartphone, dan nongkrong di coffee shop untuk secangkir Macchiato dan “camilannya”, Ice Cream Magnum. Gambaran ini begitu lekat di hampir semua relung masyarakat perkotaan, tak heran selain industri telekomunikasi yang terus berkembang, bisnis “jajanan modern” pun tak kalah menggiurkannya. Roti dan kue adalah salah satu produk yang paling diminati satu dekade terakhir ini.

Jika zaman dulu identik bahwa sarapan pagi itu harus nasi, maka saat ini, seiring dengan tingkat kesibukan masyarakat yang terus meningkat. Masyarakat mulai berpikir untuk mengonsumsi sarapan yang praktis, tanpa menyampingkan nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi. Alternatifnya adalah roti. Selain itu, dibanding jenis makanan lain, roti sangat praktis untuk didapatkan dan dikonsumsi. Jika kita bandingkan dengan sebuah mie instant, kita harus melakukan proses perebusan dan harus dilengkapi dengan telur dan sebagainya. Dan proses mengonsumsinya pun agak sulit ketika kita sedang berada di kendaraan atau di perjalanan.

Bergesernya pola makanan ini menjadikan Roti sebagai “idola baru” di pasar. Dan ini berimbas pada produsennya yang terus bertambah, dan bukan hanya dari kalangan lokal, namun sejumlah brand besar internasional saat ini pun “invasi” di tanah air ikut berebut pasar.

Dunkin Donuts boleh dibilang salah satu pionir yang telah lebih dulu berkembang di Indonesia, tak terkecuali di Bali. Setelah itu nama-nama seperti Bread Talk [jaringan toko roti populer asal Singapura]. Pizza Hut, Dominos Pizza [makanan Italia dari Amerika] serta brand lainnya menjadi bagian dari lifestyle masyarakat kota saat ini. Sementara dari jajaran lokal, mungkin hanya Puri Mas [sudah ada sejak tahun 1936] dan Soes Merdeka yang menjadi pemain terkuat, bahkan hingga kini.

Namun sejak reformasi, pelan tapi pasti para pemainnya semakin banyak. Ada J.Co Donuts yang di rintis oleh Jhonny Andrean, sang pakar rambut, atau Kebab Baba Rafi yang dikenalkan oleh seorang anak muda bernama Hendy Setiono, atau Brownies Amanda yang dirintis seorang ibu rumah tangga. Dan puncaknya selama beberapa tahun terakhir, bisnis ini terus melahirkan nama-nama baru dengan produk makanan yang kian variatif.

Di bilangan Sekar Jepun, Denpasar misalkan, berdiri pabrik roti CV Pelangi (Rex’s), yang dari pabrik tersebut, ribuan roti dan kue mampu dihasilkan setiap harinya. Croissant, danish, roti tawar, tortilla, hingga muffin adalah sejumlah roti yang di hasilkan. Usaha ini mampu mendulang omzet hingga mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya. Usaha ini dirintis oleh Ketut Mudita, sejak tahun 2000 silam. Pembuatan roti yang mulanya bersifat industri rumahan kini bertransformasi menjadi usaha pabrikan. Dan saat ini justru menyasar segmen pariwisata sebagai main market-nya.

Selain CV Pelangi, adapula Ruth’s Dessert yang berlokasi di Bypass Ngurah Rai Sanur, Ruth [pemilik toko kue tersebut] bersama suaminya John ingin memperkenalkan kue tradisional khas Negeri Paman Sam kepada para pecinta kuliner di Pulau Dewata. Berbekal resep kue dari keluarga besarnya serta kreasinya sendiri, wanita yang fasih berbahasa Indonesia itu pun mampu menciptakan lebih dari 10 jenis kue untuk disajikan di Ruth’s Dessert. “Sejak dulu saya memang suka memasak. Ibu saya mengajarkan saya tentang cara membuat kue. Saya pun tumbuh bersama resep kuenya. Membuat kue pun menjadi salah satu hobi saya. Saya senang dengan kemampuan saya tersebut. Saya bisa membuatkan kue yang enak untuk orang-orang terdekat, terutama untuk suami dan anak-anak saya. Mereka sangat suka strawberry cake buatan saya,” jelasnya.

Selain itu penjualan retail, pasar cake & bakery juga umumnya menerima pesanan, baik untuk wedding atau acara-acara hajatan. Ini juga menjadi sumber lain yang membuat usaha ini semakin diminati. Tantangan Namun memang, sekalipun pasarnya sedemikian gemuk bukan berarti terjun di sektor bisnis ini mudah. Tidak sedikit para pengusaha roti yang justru mengalami kegagalan, apalagi di proses awal pendiriannya, ketika brand belum dikenal dan dipercaya. Sementara di satu sisi, roti merupakan produk makanan yang memiliki kadaluarsa relatif cepat. Belum lagi ramuan resep untuk menghasilkan produk yang memanjakan lidah. Semua ini tentu bukan soal yang mudah.

Kami memetakan, setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan bagi Anda pelaku usaha di bidang roti dan kue, jika ingin produk yang dihasilkan bernilai jual dan mampu bersaing di pasaran. Yang pertama adalah skill orang yang membuatnya atau sang koki. Ini adalah faktor penting. Si pembuat harus memiliki skill yang baik dan terus belajar serta mengikuti perkembangan produk-produk baru.

Yang kedua bahan yang digunakan, pemilihan bahan yang berkualitas yang sesuai dengan harga dan segmen yang dibidik akan memberikan peluang maksimal bagi penjualan yang diinginkan. Pemilihan bahan berkualitas dan memenuhi standard kesehatan adalah suatu yang harus dilakukan. Yang ketiga adalah standarisasi kesehatannya. Mulailah dengan mendaftarkan usaha ke intansi yang terkait, baik BPOM atau pun dinas kesehatan. Jika ketiga faktor ini bisa dipenuhi, maka petualangan untuk menjelajah seni kuliner siap dimulai. Tertarik?

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket