Arnold Sebastian Egg – The Man Behind tokobagus.com

Siapa yang tidak pernah mampir ke tokobagus.com? Diantara kalian pasti sudah pernah mencicipi bagaimana rasanya bertransaksi sebagai pembeli ataupun penjual dalam jaringan tokobagus.com. Situs yang berlogokan gambar lampu menyala ini berhasil menjadi situs e-commerce nomer satu di Indonesia serta terus menjadi perbincangan para ‘peselancar dunia maya’. Bayangkan sekitar 2,7 juta anggota aktif bertransaksi di situs ini.

Nilai total transaksinya per tahun pun gila-gilaan, bahkan mencapai angka miliaran rupiah. Terlebih dengan jumlah pengunjung yang terus mencapai 10 juta views per minggunya, dipastikan bisnis e-commerce ini sangat berpotensi besar. Bandingkan dengan jumlah pengunjung 14 mall besar di Jakarta yang rata-rata cuma dikunjungi 35 ribu pengunjung setiap harinya, kunjungan di tokobagus.com tentu terbilang fantastis. Segala kesuksesan yang diraih Toko Bagus pun tidak lepas dari otak di belakang layarnya. Nama situsnya boleh sangat ‘Indonesia’, namun siapa sangka kreatornya sendiri adalah seorang pria berdarah Belanda. Arnold Sebastian Egg hijrah ke Indonesia demi mengadu nasib dan masa depannya. Hanya bermodalkan passion ‘programming’, Arnold mampu membangun impiannya di negeri orang. Tak semudah membalikan telapak tangan memang, berbagai macam tantangan serta risiko pun menghampiri Arnold selagi membangun Toko Bagus dari titik nol. Statusnya sebagai warga negara asing juga menjadi momok tersendiri.

Pada akhirnya, Arnold mampu meyakinkan pemerintah serta masyarakat Indonesia melalui Toko Bagus, ia turut membangun negeri ini dengan kreatifitas dan ide brilian. Kini, Arnold mengaku telah seutuhnya menjadi bagian dari Indonesia. Bahkan ketika reporter Money & I, Putra Adnyana menyambangi pria ini di sebuah acara seminar technopreneur, Arnold Sebastian Egg dengan bangganya fasih bercakap-cakap menggunakan Bahasa Indonesia. Berikut perbincangan kami yang hangat sembari menikmati makan siang selepas acara!

Konsep apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh Toko Bagus?
Tokobagus.com ini sebenarnya berangkat dari kebutuhan masyarakat Indonesia kini, dimana banyak dari mereka yang ingin belanja atau bertransaksi tanpa mesti keluar rumah. Cukup diam di depan komputer dan dalam sekejap segalanya pun menjadi lebih efisien. Saya lihat banyak situs e-commerce sejenis yang justru tidak jelas marketnya, terlalu general menurut saya. Kalau tokobagus.com kan memang fokus menyasar pasar lokal, ya masyarakat Indonesia dari berbagai daerah. Apalagi kami menawarkan interface yang mudah, termasuk untuk penggunaan perangkat mobile. Kami pikir trading online itu kan harus mudah, poinnya simple and good interface.

Pernahkah Anda pesimis saat awal-awal mendirikan Toko Bagus ini?
Pesimis? Ya iyalah, saya sempat pesimis untuk itu. Namun saya tetap harus yakin bahwa suatu saat nanti saya akan menang menghadapi segala risiko dan tantangan di depan. Saya lihat betapa briliannya tim saya. Saya lihat keluarga-keluarga yang menggantungkan hidupnya pada mereka. Saya yakin jika bersama dengan mereka, kita akan menjadi sesuatu. Saya memang tidak bisa lepas dari pikiran-pikiran tentang ‘bagaimana kalau nanti ini akan gagal’. Tapi melihat kekuatan tim ini dan proses yang tengah saya bangun, saya bertekad untuk terus melangkah ke depan.

Lalu bagaimana Anda bisa melawan rasa ragu yang besar dalam diri Anda?
Tanpa kita sadari, keraguan dapat berpotensi memicu kegagalan. Kalau kita terus-terusan ragu, jadinya kita nggak mulai-mulai dong membangun usaha kita. Kalau gitu sama saja dengan kalah sebelum berperang. Kita perlu take action, agar kita tahu hasil dan prospek yang kita dapatkan untuk ke depannya. Hasilnya sih belakangan, yang penting action-nya dulu. Beberapa orang berpikir saya nggak bisa, apalagi saya bule yang sedang mencoba berbisnis di Indonesia. Mereka pikir saya akan gagal dengan membuka startup semacam Toko Bagus ini. I don’t care what they think about me. Kalau pun nanti gagal, yang penting saya sudah pernah mencobanya, dan dari sanalah saya akan mendapatkan banyak ilmu.

Bagaimana rasanya saat tokobagus.com ini pertama kali beroperasi?
Mendirikan tokobagus.com nggak semudah yang kalian pikir. Di awal-awal berdiri, kami masih tertatih-tatih. Pengunjung pun masih sedikit, apalagi yang mau memasang iklan online. Bahkan saya sampai harus menelpon orang-orang, merayu mereka agar memasang iklan di tokobagus.com. Meski pun harus gratis waktu itu. Infrastruktur kami masih belum mendukung saat itu. Setelah berjuang selama tiga tahun, akhirnya kami mendapatkan investor baru untuk bermitra di tahun 2008. Berangsur-angsur, kami pun memutuskan untuk memindahkan kantor ke Jakarta bersama mitra kami tersebut.

Anda mendirikan usaha ini dengan berduet, kenapa harus bermitra?
Saya itu programmer dan lebih suka berlama-lama nongkrongin layar komputer. Malah saya nggak bisa yang namanya public speaking. Untuk itu saya perlu partner dalam bisnis ini. Saya perlu mengajak seorang partner yang mampu menangani segala hal berbau marketing dan public speaking. Akhirnya saya pun bertemu dengan Remco Lupker di Belanda dan mengajaknya bekerjasama dalam membangun bisnis ini. Lambat laun, tidak memungkiri saya pun mulai untuk ikut belajar tampil ke publik, sekalian membantu Remco. Terutama menghadiri seminar atau workshop yang berkaitan tentang technopreneur seperti ini. Menariknya di sana, saya bisa membagi pengalaman dan mendorong mereka yang masih muda untuk bisa terjun ke dunia technopreneur seperti saya.

Mengapa Anda melirik pasar Indonesia untuk berwirausaha?
Untuk menjadi seorang entrepreneur di Eropa itu sangat sulit, semuanya serba mahal dan kompetitornya pun gila-gilaan. Di Indonesia, saya pikir pasarnya cukup potensial, terlebih dengan kondisi masyarakatnya sekarang yang sudah melek teknologi.

Memang sebelum Toko Bagus ini benar-benar di-launching, Indonesia masih terbilang tertinggal terhadap perkembangan dunia internet. Padahal kami sudah online sejak 24 Oktober 2003, namun momentumnya sendiri baru kami dapatkan di tahun 2005. Saat itulah kami launching tokobagus.com di Bali. Saya ini self-employed. Selama 16 tahun saya tidak pernah punya bos. Pertama kali saya ke Indonesia itu ya langsung ke Bali. Saya hijrah ke Bali pada tahun 2000, sebelum kejadian Bom Bali. Saya jatuh cinta dengan Bali yang tenang dan friendly dan saya pun memutuskan untuk menetap di Indonesia. Saat itu, saya masih menawarkan jasa pembuatan web untuk corporate di Bali. Barulah kemudian ide membuat startup e-commerce semacam amazon.com itu muncul.

Bagaimana dengan perizinannya, apalagi Anda termasuk Warga Negara Asing, apakah pemerintah Indonesia mempersulit ruang gerak Anda untuk berusaha di sini?
Sebenarnya tidak susah untuk mendirikan usaha di Indonesia, selagi kita benar-benar menuruti aturan yang berlaku di sini. Mungkin bagi ‘bule’ kebanyakan akan terlihat sangat ribet. Tapi syukur saya bisa meyakinkan pemerintah, apalagi saya nekat langsung bertatap muka dengan mereka. Saya ingin mereka tahu bahwa apa yang saya kerjakan bersama ide-ide saya di Indonesia adalah sesuatu yang turut berkontribusi membangun negeri ini.

Tampilan tokobagus.com di web terus mengalami perubahan. Apakah Anda belum puas dengan tampilan web pertamanya?
Kami terus berinovasi dan berkreatifitas untuk memperbaiki segala sesuatu yang kurang pada tokobagus.com. Produk yang pertama kali kita buat boleh jadi belum sesempurna yang kita inginkan. Oleh, karena itu di dalam perjalanannya, kita berusaha untuk sedikit demi sedikit menyempurnakan tokobagus. Di sinilah kreatifitas akan terus berjalan. Anda pun bisa melihat beberapa perubahan yang terjadi pada tampilan tokobagus.com yang benar-benar user friendly. Semuanya demi meningkatkan kenyamanan para penggunanya.

Oleh karena itu untuk bisa sukses di bisnis ini, kita harus mendengarkan dan menampung segala keinginan pengguna demi menjaga hubungan antara tokobagus.com dengan user-nya.

Mengapa akhirnya Anda memilih untuk memindahkan kantor Toko Bagus dari Bali ke Jakarta?
Pertimbangannya sih karena kami pikir Jakarta merupakan tempat yang ideal untuk kami lebih dekat dengan pelanggan. Selain itu, faktor utamanya, karena sumber daya manusia untuk pengembangan situs tokobagus.com ke depan. Kalau di Bali, SDM yang kita maksud masih terbilang sedikit. Beda dengan Jakarta, di sini orang-orang dengan kreatifitas seperti itu cukup banyak dan berkembang pesat.

Sejak kapan Anda mulai tertarik dengan programming atau dunia digital?
Dari kecil saya sudah diperkenalkan dengan yang namanya komputer oleh ayah saya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Dari sanalah kemudian saya mengenal dunia programming dan kepincut untuk mempelajarinya. Orang-orang pikir programmer itu tipikal orang yang nggak cool. Kayak di SMA, kalau kamu dicap sebagai orang yang uncool, sama saja kamu dibilang ‘nerd’. Stigma itulah yang ingin saya patahkan. Sekarang lihat orang ‘uncool’ itu yang sukses bikin tokobagus.com kan! Hehehee…

Lalu berita mengejutkan itu pun datang. Anda dan rekan Anda Remco Lupker memutuskan untuk meninggalkan dari Toko Bagus saat posisinya dipuncak. Mengapa?
Kami pikir tokobagus.com sudah jadi e-commerce yang no.1 di Indonesia. Manajemen dan infrastrukturnya sudah sangat mumpuni. Buat saya, pekerjaan kami sudah cukup sampai disana, biar merekalah nantinya yang akan mengembangkan lagi. Saya itu orangnya nggak bisa diam, selalu punya hasrat untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pokoknya setelah saya dari Toko Bagus, saya mau bikin usaha dengan ide yang baru lagi.

Ide baru apa yang tengah Anda kembangkan kini seusai dari Toko Bagus?
Saya memilih kembali ke Bali, karena saya memang lebih menyukai atmosfer di sini ketimbang di Jakarta. Di Jakarta, kamu sulit untuk mendapatkan inspirasi, berpikir tenang dan menciptakan karya. Apalagi kalau sudah disibukan dengan meeting ini-itu, ketemu orang ini-itu. Sungguh melelahkan! Yang ada malah susah untuk ketemu dengan yang namanya ide itu sendiri.

Di Bali, akhirnya saya menengok usaha travel online, maka tercetuslah happyholiday.to. Orang lokal sendiri belum memaksimalkan jasa travel secara online, maka dari itu saya ingin mencoba serius menekuninya. Startup ini masih baru banget, mungkin kita tunggu satu atau dua tahun ke depan untuk melihat pergerakannya. Kalau kita kerja keras dan mau, pada dasarnya semua orang bisa jadi Steve Jobs kok.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket