Buntoro “Saatnya Sektor Industri Berperan Sebagai Sumber Pertumbuhan”

Dua dekade terakhir, wajah kota Sleman Jogjakarta perlahan berubah, tak lagi sama. Kawasan yang tadinya sepi aktivitas bisnis tersebut, perlahan mengalami transformasi yang signifikan. Salah satu penyebabnya adalah kehadiran PT Mega Andalan Kalasan [PT MAK] di kawasan tersebut.

PT MAK adalah sebuah perusahaan produsen Peralatan Rumah Sakit yang 25 tahun silam berkapasitas sangat kecil dan bisa dikatagorikan sebagai Usaha Mikro. Saat ini telah menjelma sebagai salah satu perusahaan World Class Company. Perubahan ini memberikan dampak positif pada satu kecamatan Kalasan di Kabupaten Sleman . Tingkat kesejahteraan masyarakat Kalasan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan kapasitas perusahaan ini.

Adalah Buntoro, pendiri dan sekaligus CEO perusahaan tersebut yang dianggap paling bertanggung jawab atas perubahan positif itu. Sepak terjangnya di sektor industri nasional dan dunia, sudah tak terbantahkan lagi. Bahkan sempat tersiar kabar bahwa namanya masuk dalam radar tim transisi sebagai salah satu calon menteri di Kabinet Kerja Jokowi beberapa waktu lalu. Pria yang juga sering menjadi dosen tamu ITB ini, datang ke Bali dalam kapasitasnya sebagai pembicara tamu dalam perhelatan The 6th Indonesia International Conference on Innovation, Entrepreneurship and Small Business [IICIES 2014] di Patra Jasa. Kesempatan ini tentu saja tak kami lewatkan untuk berjumpa dengannya. Dalam satu momen makan siang yang akrab, kepada Arif Rahman dari Money & I, Buntoro bercerita panjang soal Indonesia. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Bagaimana Bapak melihat perekonomian Indonesia saat ini?

Sekarang ini, pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak membawa sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh orang per orang saja yang mempunyai akses ekonomi. Dan selama ini pembangunan fasilitas (infrastruktur) juga seolah-olah hanya memberikan karpet merah bagi investor asing. Kita itu masih dikuasai oleh asing. Lihat saja produk-produk yang setiap harinya kita pakai, mulai pasta gigi, sabun mandi, sampai kendaraan bermotor. Semua itu walau dibuat di dalam negeri tetapi bukan merk Indonesia. Barang-barang tersebut adalah produk dengan lisensi perusahaan asing dari negara lain. Dan menurut saya, ini adalah tantangan besar bagi kita semua. Apakah bisa atau tidak kita lepas dari ketergantungan pada produkproduk asing.

Setidaknya kita harus mulai bisa menciptakan produk seperti perusahaan-perusahaan tersebut. Tidak harus punya yang sebesar Unilever atau sekelas Toyota Astra Motor. Namun bisa atau tidak kita dalam 5 tahun ke depan ini, mulai memikirkan bagaimana membangun entitas industri yang mempunyai karakter, yang mempunyai basis yang kuat berdasarkan kompetensi. Meskipun kecil-kecil, tapi kalau banyak akan lebih baik. Bukankah Goliath terdiri dari kumpulan para David?

Contoh nyatanya sudah saya tunjukkan dengan PT MAK yang saya dirikan, mampu membangun sebuah desa, kecamatan atau kabupaten dan membuat desa dan kecamatan itu merasakan kemakmuran. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa satu industri bisa melakukan ini. Bahwa desa bisa dikembangkan dengan cara ini. Saya berharap bahwa contoh ini bisa menjadi benchmark bagi daerah-daerah lain, tentunya harus disesuaikan dengan local wisdom di daerah-daerah tersebut. Jadi bukannya “sim salabim” dengan satu kebijakan lalu tiba-tiba segala sesuatunya tumbuh dengan sendirinya.

Dominasi asing semakin menjadi sejak pasar bebas, hal ini tidak terhindarkan lagi?

Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang bisa mencapai kemakmuran selama ekonominya didominasi asing. Menurut saya, dominasi asing bisa dipatahkan apabila bangsa ini mau menghargai sekecil apa pun keberhasilan yang dicapai oleh bangsanya sendiri. Dan sebaliknya setiap keberhasilan harus diakui bukan milik orang per orang atau satu golongan saja. Setiap pihak harus mau menjadi bagian dari keberhasilan Indonesia. Kita harus punya andil, harus bangga atas keberhasilan. Di MAK, filosofi dasarnya adalah menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Saat ini dan masa mendatang sektor Industri tidak bisa diragukan lagi adalah prime-mover yang menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Dan kita harus menyadari bahwa dengan dikontrol asing, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan membawa kesejahteraan bagi rakyak kecil.

Kalau kita amati sebetulnya keberhasilan Cina yang paling hebat adalah keberhasilan gerakan kolosal pembangunan industri di seluruh Cina. Mulai dari Beijing, Shaanxi, sampai daerah-daerah kecil lainnya. Di pedalaman itu slogan Deng Xiao Ping menggema di mana-mana. Zhi Fu Shi Guang rong atau yang artinya menjadi kaya adalah mulia, rich is glorious, sehingga setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi kaya dan punya keinginan untuk bersaing menciptakan barang. Sementara di Indonesia, slogan seperti itu tidak dipercaya. Inginnya segala hal harus ada contoh kongkretnya dulu. Harus lihat orang lain berhasil baru mau mengikuti. Itu sebabnya harus ada contoh, bahwa ada suatu daerah yang berhasil dari sebuah industri dimana masyarakatnya sejahtera dan makmur. Ini kunci keberhasilannya. Nanti daerah lain tinggal menirunya.

Apa yang harus kita gali untuk memulainya?

Kalau kita lihat, setiap level punya tantangan masing-masing. Seperti usaha mikro itu misalnya. Kalau mau naik kelas itu kan tidak mudah, bisa butuh waktu sampai 10 tahun. Apalagi untuk sampai ke level berikutnya, kelas menengah. Itu tantangannya berbeda dengan di usaha kecil. Demikian juga di tingkat negara. Kalau kita tinjau Indonesia, sampai dengan PDB $ 3.000 masih bisa mengandalkan SDA atau komoditi primer. Ini masih memungkinkan. Cara gampangnya begini, sumber daya alam paling besar di Indonesia itu kan sawit, coba lihat produktivitas Sawit, maksimum $2.000 per Ha. Padahal seorang petani sawit maksimum hanya bisa menggarap 3 hektar. Jadi sekitar $ 6000. Dan keluarga petani itu 4 orang. Itu artinya hanya memberikan hasil yang levelnya $ 1.500 per orang. Artinya sektor pertanian (industri agro) tidak mungkin bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Sedangkan sektor pertambangan, cepat atau lambat akan habis lho, ini nggak sustain. Jadi adalah keliru kalau orang mengatakan bahwa kita itu unggul di sektor pertanian, perikanan, tambang, dll dan mengandalkannya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau ditinjau lebih dalam sektor-sektor tersebut tidak mungkin mampu memberikan kontribusi bagi pertumbuhhan ekonomi hingga ke level $5000.

Apa yang harus kita fokuskan?

Dukung sektor riil, dan ini bukan paling mungkin lagi, tapi keniscayaan dan satu-satunya. Apalagi coba, andalkan minyak bumi, wong lifting-nya turun terus, batu bara yang satu saat nanti akan habis? Menurut saya, dorong sektor industri. Contoh di MAK perusahaan kami, yang targetnya world class company, di mana salah satu kriterianya adalah produktivitas kerja per orangnya itu $60.000, dan ini 10 kali lipat dari kontribusi di sektor pertanian. Jadi kalau orientasi kita mau jadi negara maju, justru sektor industrilah yang seharusnya didukung. Dan ini sudah terbukti, tinggal dicontoh saja lho.

Apakah ini karena doktrin masa lalu agar kita memiliki keunggulan komparatif?

Kalau saya tidak melihat begitu. Ada invisible hand, orangorang yang digunakan untuk sengaja menyesatkan cara berpikir kita, membentuk paradigma kita bahwa cara hidup kita itu seharusnya seperti sekarang ini. Hal-hal yang seperti inilah yang seharusnya kita lawan.

Coba lihat, Cina tidak akan bisa berkembang lagi, akan susah walaupun mereka berusaha. Tapi kalau sampai PDB $ 10.000 Cina mungkin mampu, tapi diatas $ 10.000, itu bukan lagi soal sektor industri, tapi high tech industri. Dan ini disadari Cina, sejak 5 tahun lalu mereka sudah membeli IBM desktop untuk membawa Lenovo ke tingkat dunia. Sekarang dia beli Volvo yang diyakini bisa menjadi penghela bagi industri otomotif, mereka butuh effort luar biasa besar untuk mengembangkan industri hightech-nya. Jadi Cina yang sudah sedemikian maju saja tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri untuk masuk ke zona high tech. Jadi cara paling mudah yang mereka tempuh dengan cara membeli teknologi yang sudah jadi, sangat tidak gampang untuk naik kelas ke PDB $ 10.000, apalagi bagi Indonesia yang mau berpenghasilan $ 20.000-25.000 tapi tidak melakukan apa pun. Sekarang jumlah penduduknya masih 250 juta, 20 tahun lagi kita akan bicara 300 juta manusia. Bagaimana caranya memberikan kesejahteraan bagi 300 juta manusia dengan mengandalkan sektor pertanian? Selain lahannya berkurang, produktivitasnya juga cuma segitu, mandeg. Kecuali masyarakatnya mau beli beras seharga Rp. 80.000 sekilo seperti di Jepang, itu lain cerita. Wong ini jualannya masih Rp. 8.000 sekilo kok, ya hasilnya juga segitu-segitu saja.

Keberhasilan MAK di Sleman, apakah bisa menerapkannya di daerah-daerah?

Dasar pemikirannya begini, apakah kita tahu PDB Bali itu berapa, banyak yang tidak menyadari hal-hal kecil seperti ini, sehingga orientasinya bias. Bali ini diorientasikan sebagai daerah dengan industri pariwisata yang bagus, padahal itu kan cuma satu titik di beberapa lokasi saja, sementara Bali itu luas. Misal di Singaraja, tidak banyak ada kawasan pariwisata di sana, mau di bangun apa disitu. Jadi banyak orang melihat Indonesia sebagi entitas kecil, padahal setiap daerah punya local wisdom yang seharusnya digali lebih dalam, sehingga bisa dibangun industri-industri yang tepat di daerah-daerah tersebut.

Bagaimana dengan kemampuan SDM kita yang relatif masih rendah?

Bukan soal SDM, tapi mindset-nya yang perlu dirubah. Kita harus sering melakukan pikiran yang liar atau out of the box, dan harus belajar dari pengalaman pemikiran tersebut. Di MAK, kita sukses di industri alat-alat kesehatan, tapi kami juga pernah bikin sepeda motor dan ternyata sulit. Karena yang terberat itu dalam uji coba, adalah waktu yang terbatas, dan harus kita konsepkan jangka panjang di mana pertanyaannya adalah, apakah generasi berikutnya bisa melanjutkan ini atau tidak. Ada keterbatasan di sini. Kami gagal di industri sepeda motor, tapi jika ditanya apakah bisnis sepeda motor masih bagus di Indonesia, dan ini ditanyakan ke Honda, Yamaha atau Suzuki, mereka akan bilang masih sangat OK. Jadi kalau kami bikin sepeda motor dan ternyata belum OK, jelas kesalahannya ada di kita.

Itu sebabnya, kalau kita bicara industri, kita tidak boleh fokus pada produk, tapi kita harus fokus pada kompetensi. Jadi yang kita kembangkan itu kompetensi di bidang mekanik. Kalau ini sudah terpenuhi, maka mau bikin apa saja bisa. Bikin alat kesehatan bisa, sepeda motor oke dan bahkan mobil pun rasanya mampu. Enggak ada masalah, kuncinya itu kompetensi, sekarang tinggal seberapa jauh passion kita untuk mewujudkan itu.

Di sepeda motor itu, 30% dari komponennya sudah dibuat inhouse, yang kita datangkan itu cuma enginge, sisanya sebesar 40% adalah common part yang sudah banyak diproduksi di dalam negeri. Sampai sekarang prosesnya agak tertunda, belum kita apaapakan lagi, tapi biar nggak mati tetap kita pelihara, dan biaya pemeliharaan ini mahal juga sebenarnya.

Dan ini yang kadang orang tidak tahu, bahwa dalam bisnis itu memang intinya cari uang, dan berapapun besarnya uang, kalau kita tidak punya kantong yang cukup, akan luber. Dalam bisnis sepeda motor, saya sedang mempersiapkan kantong yang besar.

Sekarang memang belum kelihatan, tapi tidak akan saya matikan. Ini butuh waktu, bayangkan jika nanti Indonesia punya brand lokal untuk produk sepeda motor, ini akan jadi kebanggaan, tapi ya itu, ini butuh waktu. Sebagai pengusaha, kita harus punya pribadi yang memadai, menjadi pengusaha yang lebih besar, memantapkan diri untuk memulai sesuatu yang baru yang lebih besar.

Sekalipun belum kelihatan hasilnya?

Ya, seperti yang saya katakan it’s just about time. Penjualan produk MAK sendiri lebih baik dari brand lain bahkan yang dari luar negeri.

Inikah yang Anda maksudkan?

MAK punya pengalaman bersaing dengan perusahaan Jepang yang punya pabrik di sini juga, yang skalanya saat berdiri pada tahun 1996 jauh lebih besar dari MAK, dan sampai dengan saat ini kita masih bisa mengimbangi. Kita punya track record dalam mengalahkan merek-merek asing. Itu sebabnya di sepeda motor saya cukup percaya diri untuk bisa mengalahkan Honda, karena punya track record bagus di alat kesehatan, cuma belum sekarang.

Seperti saya bilang tadi, di bisnis itu kan ada tingkatannya, you naik tingkat, ya tantangannya akan berbeda, musuhnya berbeda juga. Yang tingkatnya lebih tinggi, karena sudah lebih dulu ada di sana. Dia sudah lewati perjalanannya, harus bertahap. MAK juga begitu, sebagai world class company, kita bisa punya nilai strategis, banyak perusahaan world class company lainnya dari Eropa, Jepang dan Amerika yang mau masuk pasar Indonesia, dengan 250 juta orang dan pasar bebas yang berlaku, ini menggiurkan. Tapi mereka sudah mencoba selama berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan akhirnya mereka mengakui betapa sulitnya. Kalau di sini ada perusahaan yang punya kelas yang sama, kenapa nggak kita diajak kerjasama saja. Di situ nilai strategisnya.

Demikian pula sebaliknya, kita mau masuk Eropa, ternyata nggak gampang, kita sudah bikin produk dengan standar yang ditentukan yaitu CE Marking, tapi rupanya tidak sesederhana itu. Untuk bisa menembus pasar Eropa MAK harus bersinergi dengan perusahaan yang kira-kira sekelas.

Apa harapan untuk Indonesia kedepan?

Semoga Indonesia punya pemimpin yang betul-betul mempersiapkan diri dan mau mengkaji lebih dalam tentang potensi negara ini dengan kalkulasi potensi yang benar dan didasarkan pada data yang valid. Juga harus berani mengambil tindakan, seperti kata Deng Xiao Ping, saya nggak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa nangkap tikus. Bagi saya, ini titik balik buat Indonesia. Saya melihat kondisinya mengarah kesana.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket