dr. Made Windu Segara Senet, S.Ked – Secangkir “Karya” Sang Dokter Muda

Waktu hampir menunjukan pukul 22.00 Wita, namun Mangsi Coffee yang berada di bilangan Hayam Wuruk, Denpasar itu tidak menunjukan tanda-tanda akan sepi. Malah ada beberapa pengunjung yang baru berdatangan. Sejak didirikan pada 2013 lalu, kedai kopi ini memang langsung jadi tempat kongkow favorit masyarakat kota Denpasar. Di minggu malam itu, tim Money & I Magazine sesungguhnya tengah menanti  dr. Made Windu Segara Senet, S.Ked., yang tak lain adalah owner dari Mangsi Coffee. Tepat jam 10 malam, pria kelahiran 10 Maret 1989 itu pun menghampiri kami. Siapa sangka dibalik kesuksesan Mangsi, ternyata disentuh tangan “seni” seorang dokter muda sebagai kreatornya. Sejak 2004, Mangsi telah lebih dulu eksis menularkan “virus” minum kopi lokal lewat produk-produk kopi racikanya. Dari periode 2004 – 2013, Mangsi bergerilya lewat bubuk kopi kemasannya, namun baru satu tahun lalu impian Windu untuk mewujudkan kedai kopi Mangsi. Sang dokter pun bertansformasi menjadi arsitek sekaligus barista. Segala kreativitas yang ditemukan di Mangsi adalah buah pemikiran Windu. Kini, seni, kopi, dan dokter menjadi jantung rutinitasnya yang sekaligus mewarnai hidupnya.

Penasaran, bagaimana lulusan Kedokteran Universitas Udayana ini mampu membagi waktu praktiknya yang padat di RSUD Tabanan Bali dengan usaha Mangsi-nya? Bagaimana awal terbentuknya Mangsi? Bagaimana gairah seni yang dimilikinya mampu bersinergi dengan konsep Mangsi? Berikut petikan wawancara kami dengannya!

Bisa ceritakan proses dari awal, bagaimana ide menciptakan Mangsi ini?

Mangsi dirintis dari industri rumah tangga sejak tahun 2004 silam. Sesungguhnya bisnis ini berangkat dari kecintaan saya dan Bapak terhadap kopi itu sendiri. Kami berdua adalah penikmat kopi sejati. Jadilah, kami memulai usaha ini. Bapak saya yang berada di dapur produksinya, sementara saya bertugas sebagai tester, idea dan sekaligus product branding design. Untuk merealisasikan konsep Mangsi seperti yang ada sekarang, sesungguhnya telah melalui banyak proses yang cukup kompleks. Banyak hal yang mempengaruhi pembentukan identitas, idealisme, dan karakter Mangsi sebagai sebuah brand kopi lokal, namun yang paling utama adalah adanya unsur seni yang kental di dalamnya, Kenapa seni? Saat sebuah produk yang baik dibalut dengan sentuhan seni yang jujur, tentu memiliki “taksu” dan nilai yang berbeda.

Seperti apa hubungan erat antara seni dan kopi yang kamu maksud itu?

Ada sebuah keterikatan atau semacam sinergi yang saling melengkapi antara passion seni dan posisi saya selaku produsen kopi. Ini yang kemudian melahirkan visual dari konsep Mangsi itu sendiri. Ada poin penting idealisme-idealisme saya tertuang di sana. Semua hal tersebut menyatu ke dalam desain secara menyeluruh. Ini yang mendasari kemudian, kenapa desain Mangsi begini, kenapa namanya Mangsi, kok racikannya begini, kok logonya seperti ini. Adanya proses berkesenian itulah yang akhirnya memunculkan identitas Mangsi dengan segala inovasi, keunikan, dan kreativitas di dalamnya.

Ngomong-ngomong, biji kopi yang diproduksi di Mangsi ini langsung berasal dari kebun kopi pribadi atau dari petani kopi di daerah tertentu?

Tidak, Kami mencari kopi dari petani di daerah Kintamani. Ini karena Kintamani satu-satunya daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di Bali. Proses penemuan biji kopi yang kami inginkan itu juga terbilang unik. Dari beberapa desa yang kami kunjungi di, rasa kopi mereka masing-masing berbeda, padahal biji kopi Arabikanya sama. Itu sangat kami rasakan, ketika masing-masing kopi dari desa yang berbeda itu kami jejerkan bersama (cupping)dan kemudian diminum satu per satu di tempat. Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa Bali khususnya Kintamani punya ragam warna pada tanahnya. Saya sih melihat bahwa tanah yang berada di ketinggian tertentu punya warna yang berbeda dengan tanah di dataran yang lebih rendah. Mungkin di situ faktor penyebabnya. Dengan beberapa kali penelusuran, akhirnya saya menemukan rasa kopi yang pas di sebuah desa di Kintamani sana.

Mengapa lebih suka jenis kopi Arabika?

Alasannya sederhana sih, karena saya memang lebih suka Arabika ketimbang Robusta. Kopi Arabika itu citarasanya lebih berwarna. Kadang-kadang rasa pahitnya punya sedikit aroma buah, terkadang ada sedikit asam atau manis, bahkan terkadang tercium aroma tanah di dalamnya. Beda dengan Robusta yang bagi saya, rasanya lebih kaku.

Nampaknya Mangsi serius mengangkat kopi lokal. Kenapa?

Saya memang fokus untuk mengangkat kopi lokal, meski saya sendiri adalah penikmat segala jenis kopi dari mana pun. Kopi lokal Bali inilah yang tumbuh menjadi idealisme Mangsi. Coba pikir, kayaknya aneh, kalau seseorang repot-repot ke Bali, tapi tidak mecicipi kopi Bali malah mencari kopi luar. Dari sana saya berpikir, kalau ke Bali, ya harus minum kopi Bali dong! Sejak awal saya berkomitmen untuk mengangkat kopi Bali dan enggak ambil pusing, kalau misalnya sedikit peminat kopi Bali. Tapi ternyata sekarang semua suka kopi Bali.

Apa yang sebenarnya membuat kamu jatuh cinta dengan kopi?

Kurang lebih sejak SMP atau awal SMA entah saya merasa, kopi ini kok berteman banget dengan hobi saya di bidang seni, seperti melukis dan musik. Kopi itu bisa bikin mood stabilizer. Kalau lagi buyar, kopi bikin saya gampang untuk kembali konsentrasi dan juga bikin lebih passionate terhadap suatu yang saya suka.

Dari mana kamu mempelajari teknik meracik kopi seperti ini?

Saya ini belajar otodidak. Belajar dari percobaan. Awalnya saya tidak punya banyak pengetahuan tentang kopi. Saya benar-benar mengandalkan insting sebagai penikmat kopi. Saya cuma bermodal lidah dan tidak punya teori banyak tentang kopi. Ketika saya membuat kopi dan merasa bahwa hasil racikannya enak, maka saya akan puas. Untuk urusan selera customer, biarlah belakangan saja. Yang terpenting adalah saya menyukai kopi buatan saya saja dulu. Saya punya prinsip, bahwa untuk membuat kopi yang bagus, maka gunakanlah lidah kalian untuk mencicipinya. Tapi itu juga harus dilakukan dengan jujur. Kalau yang kalian rasakan itu sebenarnya tidak enak, jangan dipaksakan untuk mengatakan bahwa itu enak. Kejujuran dalam berkarya itu adalah syarat utama dari inovasi. Selama dua tahun eksperimen saya itu, saya tidak pernah jauh dari kegagalan. Semuanya ada masa trial & error. Kalau sekarang gagal, saya benahi dan lanjutkan lagi, hingga menemukan racikan yang saya inginkan. Spirit yang saya bawa di Mangsi adalah membuat kopi itu sama halnya dengan menciptakan sebuah karya, bukan semertamerta berorientasi pada bisnis. Sama halnya seorang pelukis yang memang hidup untuk menghasilkan karya. Kalau pun nantinya karya tersebut, terjual, itu adalah berkah baginya.

Konsep seperti apa yang ditawarkan Mangsi?

Konsep memajukan kopi Bali. Fanatik berbasis lokal untuk global, mengoptimalkan sumber daya alam Bali dengan inovasi brand yang autentik. Orang Bali sendiri dan orang yang datang ke Bali minumlah kopi Bali dan rasakan kenikmatan apa yang dimiliki oleh  alam Bali ini. Kita sebagai warga Bali wajiblah untuk mencitai dan mensyukuri apa yang kita miliki. Banyak kekayaan tersimpan di Bali, selain budaya, salah satunya adalah hasil alam kopi yang sudah mendunia. Jangan sampai kita hidup di alam yang kaya bagaikan “ayam mati di lumbung padi”.

Apa kelebihan kopi MANGSI?

Seberapa besar inovasi racikan kopi? Totalitas inovasi dengan dedikasi tinggi untuk kopi Bali. Mangsi punya keberanian karya cipta racikan kopi dengan bumbu rempah yang sangat unik tidak dimiliki oleh produsen dan kedai kopi manapun. Berangkat dari ide sederhana mengembalikan tradisi citarasa Bali yang sarat akan rempah dan bumbu pekat. Pada umumnya racikan kopi berupa blending yaitu campuran kopi dari beberapa daerah misalnya kopi Bali dicampur kopi Aceh, Toraja, atau racikan kopi dan susu atau  ice cream seperti Cappucino, Latte dll. Racikan kopi susu gaya Eropa tersebut rasanya kurang tepat jika kita jadikan sebagai suguhan menu utama kedai kopi di Indonesia, karena jauh dengan kultur nusantara khususnya di Bali. Jika ada tamu asing yang datang ke Bali, biarlah mereka mencicipi kopi dengan gaya Bali. Tapi bukan berarti Mangsi tidak menyediakan menu kopi susu (Cappucino, Latte, dll) seperti pada umumnya. Kopi susu ini dijadikan sebagai menu pendukung.

Bagaimana bisa terpikirkan menggunakan bahan-bahan alam yag justru cenderung digunakan sebagai bumbu masak?

Mangsi memiliki 4 jenis Signature Coffee Special Spices Mix. Keempat jenis kopi ini terdiri dari Mangsi SPIRIT (Kopi, Jahe, Cengkeh, Kayumanis), Mangsi STAMINA (Kopi, Kapulaga, Cocoa, Cengkeh, Jahe, Kayumanis), Mangsi VITALITY (Kopi, Ketumbar, Cocoa, Cengkeh, Jahe, Kayumanis), Mangsi CURCUMA (Kopi, Temulawak, Cengkeh). Keempat racikan ini saya dan bapak riset selama 2 tahun. Menjadikan sebuah rasa yang seimbang dengan tidak menghilangkan karakter kopinya. Mungkin sejak dulu sudah ada kopi jahe atau kopi coklat, itu tergolong mudah karena hanya menggunakan 2 unsur. Sedangkan Mangsi mencampur 6 unsur dalam satu racikan. Butuh kesabaran, pemahaman lebih dalam kepada sifat kopi itu sendiri serta kepekaan lidah untuk mencampur kopi dengan rempah dari bunga, buah, daun, batang, dan akar demi menunjukkan identitas Bali. Sejak awal peluncuran, kenikmatan keempat racikan mahakarya kopi ini menjadi buruan para pecinta kopi lokal maupun internasional. Rempah-rempah itu kan termasuk komoditas utama di negeri ini, di mana sangat sulit kita temukan di negeri orang lain. Di situ saja sudah saya temukan satu poin uniknya. Seorang produsen kopi ternama di Amerika pun turut mengapresiasi hasil racikan kopi ini sebagai racikan dengan kekuatan amunisi rasa yang hanya dimiliki oleh Mangsi Coffee.

Apa manfaat rempah-rempah dalam racikan kopi Mangsi?

Jika kita melihat dari sisi kesehatan bahanbahan tersebut sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Cengkeh mengandung eugenol bermanfaat membersihkan gigi dari bakteri, antimikroba dan anti radang. Jahe untuk menghangatkan tubuh, mengurangi kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah. Kayumanis mengandung kalsium, serat, zat besi dan mangan serta minyak esensial yang cocok untuk kesehatan pencernaan juga sering digunakan sebagai bahan produk pasta gigi untuk menyingkirkan bakteri pada gigi dan gusi. Curcuma atau temulawak tanaman obat asli Indonesia sebagai hepatoprotektor memelihara kesehatan fungsi hati, meningkatkan nafsu makan dan antioksidan. Ketumbar (coriander) mampu menurunkan kadar gula, merangsang hormon untuk menjaga siklus dan kelainan menstruasi. Kapulaga mengandung 2 zat penting yang baik untuk kesehatan tulang yaitu mangan dan vitamin C mencegah osteoporosis. Selain itu, kapulaga memiliki sifat analgetik. Kita layak berbangga dengan hasil rempah yang kita miliki ini sarat dengan kandungan dan manfaat untuk kesehatan tubuh. Inilah yang kami pakai acuan untuk bisa berkarya dan berkompetisi di bidang ekonomi kreatif. Mangsi mengajak dan ingin berbagi cerita tentang inovasi kopi gaya hidup sehat.

Apa ada produk Mangsi yang Lain?

Tidak sekedar kopi diseduh dalam cangkir. Mangsi juga punya produk olahan kopi yang lain seperti Lulur Kopi (Mangsi Coffee Body Scrub) mengoptimalkan secara penuh potensi yang terkandung dalam kopi. Dalam waktu dekat kami segera merilis Mangsi Coffee Cookies. Suguhan lain berupa Mangsi Ensiklopedia. Mangsi memberikan pengetahuan pemahaman kopi melalui Mangsi Ensiklopedia kepada pecinta kopi lewat media sosial. Supaya kita minimal mengetahui tentang kopi Bali dari kebunnya, kehidupan petani, pengetahuan dasar kopi, proses pengolahan, hingga proses meracik kopi.

Gerakan apa yang dilakukan Mangsi untuk kopi Bali?

Bulan Mei 2014 lalu Mangsi membuat acara Denpasar Minum Kopi Mangsi. Ini wujud keseriusan saya untuk membuat warga Bali untuk minum kopi Bali. Saya memberi gratis kopi kepada semua tamu yang hadir. Agar semua tahu kalau kopi dari Bali itu tidak kalah enak dengan kopi brand luar. Dalam acara ini saya hadirkan petani kopi, Narasumber pakar kopi, produsen kopi, dan Bapak Walikota Denpasar sebagai wakil dari pemerintah yang tergabung dalam acara diskusi kopi yang sangat menarik. Membahas lebih dalam tentang pertanian kopi, bagaimana kondisi industri perdagangan dan distribusi kopi Bali di pasar lokal dan internasional, bagaimana minat dan kesan kopi Bali di mata orang Bali. Dua bulan setelah acara Denpasar Minum kopi, Mangsi merayakan ulang tahun yang kesepuluh dengan acara yang sarat gerakan kopi Bali juga namanya “MANGSI VIRUS Makes COFFEE FEVER.

Seperti apa “MANGSI VIRUS Makes COFFEE FEVER” itu?

Di ulang tahun Mangsi yang kesepuluh ini saya membuat tema “MANGSI VIRUS makes COFFEE FEVER” artinya selama ini Mangsi telah menyebar virus minum kopi kepada orang-orang sehingga akhirnya muncul demam kopi. Dari demam minum kopi sampai demam kedai kopi. Virus yang positif ini ternyata sangat berdampak besar kepada life style anak-anak muda untuk mulai minum kopi. Di momentum ini Mangsi tidak sekedar berwacana ajeg Bali, tapi betul-betul realisasi dengan membagikan 5000 bungkus kopi. Bagaimana orang tahu kenikmatan kopi bali hanya dari gambar atau iklan? Mereka harus mencicipi. Inilah dedikasi kami untuk Bali dan Kopi Bali.

Mangsi ini sudah eksis hampir 10 tahun ya. Tetapi kenapa kedainya ini sendiri baru didirikan pada 2012 lalu?

Sebelum kedai ini ada, Mangsi sudah terlebih dahulu eksis sejak tahun 2004 dengan memproduksi kopi dalam kemasan. Dulu memang belum sampai pada konsep kedai seperti sekarang. Bapak saya juga belum siap untuk itu. Apalagi waktu rintisan awalnya, saya masih berstatus pelajar. Meski begitu, mimpi saya untuk mempunyai kedai kopi sendiri itu sudah ada sejak lama. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana konsep kedai Mangsi dalam imajinasi saya. Akhirnya setelah saya lulus kuliah, baru kemudian berani membuka kedai Mangsi ini. Kalau dulu, sebelum ada kedai, bubuk kopi Mangsi didistribusikan ke pasar oleh-oleh, supermarket, restoran, dan hotel. Respon pasar sangat positif. Dari yang hanya memproduksi 10 kg kopi sejak 2004, kemudian meningkat menjadi 500 kg, beberapa tahunnya lagi menjadi 1 ton, dan hingga sekarang sudah menjadi 3 ton per bulan.

Apa Mangsi pernah berada di titik terpuruk sejauh ini?

Sebenarnya apapun usahanya pasti akan mengalami fase tersebut. Saya pribadi telah mempersiapkan “seribu ide” untuk mengantisipasi kerugian atau titik drop Mangsi, yakni dengan mengeksplorasi kreativitas dan inovasi. Makanya, saya membuatkan sebuah redaksi untuk Mangsi setiap bulannya, agar ada hal-hal baru yang bisa ditampilkan di sini. Enggak ada tuh istilahnya Mangsi yang monoton. Terlebih ketika ada yang menjiplak ide-ide Mangsi, itu pun sudah saya persiapkan cara untuk menghadapinya. Pernah ada customer yang bilang kalau logo Mangsi dibajak atau dijiplak. Nama Mangsi dan logo sudah terdaftar di HAKI jadi tidak ada masalah. Sesuatu yang dijiplak tidaklah memiliki energi seperti karya murni yang tumbuh dari penciptanya.

Agak unik mengetahui, bahwa sesungguhnya profesi utama kamu adalah seorang dokter. Kamu punya passion dan talenta di dunia seni lukis, namun kenapa akhirnya kamu memilih mempelajari kedokteran?

Hmm, sebenarnya saya memilih masuk jurusan tersebut juga dengan banyak pertimbangan. Saya memang sengaja tidak mencari jurusan seni rupa, karena bagi saya melukis itu adalah suatu hal yang dikerjakan dengan mengalir, tidak bisa dibuat menjadi sebuah rutinitas. Saya ingin melukis, ketika benar-benar saya memang ingin mengerjakan itu. Kalau saya kuliah seni, pasti setiap hari saya akan dipaksa untuk berkarya. Sementara saya tipe orang yang susah berkarya kalau dipaksa. Berkesenian itu tidak harus ditunjukan dengan melukis setiap hari. Mengkhayalkan sebuah visual di dalam pikiran kita setiap hari itu juga termasuk sebuah proses berkesenian.

Apa kuncinya yang membuat kamu bisa membagi waktu antara Mangsi dan profesi dokter?

Kuncinya adalah kurangi waktu tidur, hahahaa..Buat saya Mangsi itu sebagai tempat relaksasi, tempat untuk melepas penat dari kesibukan saya sebagai dokter. Mangsi itu jadi semacam terapi untuk saya, di mana saya juga bisa menuangkan hasrat berkesenian di sini. So, dibawa enjoy saja. Sejauh ini keduanya masih harmonis dan bisa diatur.

Oh ya kami lupa menanyakan, apa sebenarnya arti dibalik nama Mangsi itu sendiri?

Kalau dalam Bahasa Bali, “mangsi” itu sinonim dari kata “adeng” yang tak lain merupakan hasil yang ditimbukan dari proses akumulasi pembakaran terhadap suatu benda. Filosofinya begini, api itu dalam konsep Hindu dikenal sebagai kekuatan Brahma. Dewa Brahma dipercaya bersemayam di setiap tungku perapian di dapur orang Bali. Kalau orang Bali zaman dulu itu, pasti sering menempelkan “mangsi” ini pada kening anak-anaknya, karena dipercaya punya kekuatan pelindung, agar terhindar dari segala energi negatif. Sederhananya mangsi itu mampu membawa energi yang positif. Seperti itu pula yang saya harapkan dari konsep Mangsi yang saya buat ini. Semoga mampu memberi kontribusi yang baik kepada Bali.

Akhir kata dari Mangsi?

Kalau cinta Bali, minum kopi Bali. Inilah yang kami bisa persembahkan sekaligus memberikan inspirasi kepada kreatorkreator muda berikutnya agar mampu menciptakan identitas kejatidirian masingmasing. Jangan sampai milik kita diambil oleh orang asing dan di branding oleh pihak asing dan kita bangga menjadi konsumen sejati asing. Begitu pula jangan berkreativitas instan dengan ikut-ikutan tren. Bali ini ladang seni, sumber inspirasi terbesar kreator dunia. Kalau mau sedikit menggali ide dan berpikir, kita akan diberi hadiah inspirasi oleh alam Bali ini. Selamat berkarya.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket