Industri Pariwisata Indonesia! Saatnya Berbenah

Dalam bidang pariwisaata, Indonesia telah meraih berbagai penghargaan dari dunia internasional. Sejumlah destinasinya disematkan sebagai yang terbaik di dunia, budayanya sungguh kaya dan ragam, alamnya pun punya sejuta pesona. Namun eksotisme itu tidak serta merta menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikunjungi paling banyak di Asia. Bahkan dengan beberapa tetangganya yang serumpun, kita jauh tertinggal.

Sebagai negara yang menjadikan pariwisata sebagai salah satu industri unggulannya, ternyata tidak memberikan kontribusi besar secara nyata. Berdasar data Kementerian, pariwisata memberikan kontribusi sebesar 9 persen pendapatan domestik bruto (PDB) pada 2014. Inilah yang mendorong pemerintah untuk terus berbenah, target barupun dicanangkan. Pada tahun 2019 nanti, diharapkan kontribusi pariwisata terhadap PDB mencapai 15 persen dengan nilai Rp 275 triliun, dengan kontribusi terhadap kesempatan kerja ke 13 juta orang.

Dalam konferensi “Web in Travel” (Wit) yang berlangsung di Grand Nikko Nusa Dua, pada 28 April 2016 lalu, CEO Revata selaku pelaksana Web in Travel di Indonesia, Grace Kusnadi menyampaikan, “sektor pariwisata diharapkan menjadi leading sector (sektor yang memimpin) guna menambah devisa negara. Untuk mencapai target yang ditetapkan pemerintah, yaitu datangnya 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia hingga 2019,” ujarnya.

Target ini jelas tidak mudah, terlebih hasil Konferensi Pertama Dunia Pariwisata untuk Pembangunan, yang dihadiri 600 perwakilan pejabat dan pelaku industri pariwisata dari 107 negara menyebutkan bahwa Indonesia ternyata berada di peringkat 130 dari 144 negara dalam hal pengembangan pariwisatanya.

Artinya, kita memiliki keindahan alam yang elok, budaya yang unik dan berbagai keunggulan lainnya, yang hanya diperuntukkan bagi generasi saat ini. Sementara dalam jangka panjang, kita dianggap belum bisa membangun rencana yang memungkinkan apa yang kita miliki saat ini, akan tetap ada sampai nanti.

Data ini semakin memvalidasi kondisi infrastruktur di Indonesia yang memang masih tertinggal jauh. Bukan hanya dalam hal transportaso, tapi juga sarana dan prasarana di kawasan pariwisata yang tidak terurus. Di Bali sendiri, sejumlah kawasan pariwisatanya tidak memiliki fasilitas kamar mandi yang layak, jangankan yang bertaraf Internasional, di sejumlah kawasan malah justru tidak ada. Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Taman Rekreasi Indonesia (Putri) Bali, I Ketut Nuryasa di koran harian Tribun Bali (24 Mei 2016), “Beberapa daerah di wilayah Timur Bali seperti Karangasem dan Bangli, masih tidak memiliki toilet, di Pantai Virgin salah satunya. Dan ini yang menjadikan kondisi pariwisata kita semakin tertinggal, terlebih untuk jangka panjang.

Inilah PR berat yang akhirnya menjadi ironis, tidak heran jika kemudian Presiden Joko Widodo secara langsung meminta seluruh kementerian dan lembaga agar mendukung sektor pariwisata di Indonesia. Diperlukan percepatan sebagai salah satu cara untuk mempromosikan serta menjual berbagai paket pariwisata ke Indonesia. Dan pemanfaatan teknologi bisa menjadi salah satunya.

WIT INDONESIA CONFERENCE 2016

Dalam WiT 2016 sendiri, teknologi adalah isu utama yang menjadi pembahasan. Konferensi bertema ‘Reboot’  ini menghadikan Eric Tjecep (Founder Ezytravel), Dimas Surya (Co Founder & CGO Tiket.com) Ruwei Rahardjo (GM Wego Indonesia), Hiroyuki Murai (Director Pegipegi.com) yang menyampaikan bagaimana saat ini hampir semua hal terkait dengan pemesanan tiket dan reservasi hotel dilakukan secara online, padahal di tahun 2013, hanya 10% saja travellers yang melakukan hal tersebut. Inilah yang mendorong ramainya pelaku industri dalam bidang teknologi di sektor pariwisata.

“Berbagai industri kini tengah di dominasi oleh kaum milenial yang sangat familiar dengan teknologi. Begitu juga dengan industri pariwisata, saya pikir para konsumen kini mendapat informasi, memesan bahkan melakukan pembayaran melalui gadget mereka.” ujar Grace.

WIT Indonesia merupakan adaptasi dari WIT Conference di Singapura, event pariwisata online terbesar di Asia Pasifik. Konferensi, yang diselenggarakan oleh WIT dan Revata Cipta Kreasi, itu sudah berlangsung empat kali.

Medical Tourism

Selain infrastruktur dan teknologi, maka cara lain yang cukup sukses dilakukan sejumlah negara yang berkembang industri pariwisatanya adalah melalui medical tourism. Di era modern ini, salah satu alasan yang paling signifikan mengapa orang melakukan perjalanan lintas negara untuk berobat adalah faktor biaya. Medical tourism di India misalnya, biaya operasi bedah di “Bollywood” itu sekitar 1/10 biaya yang harus dilkeluarkan di Amerika Serikat atau Eropa Barat, dan terkadang lebih kecil daripada itu. Penggantian katup/klep jantung seharga USD 200,000 di Amerika Serikat dapat dilayani di India dengan biaya yang hanya USD 10,000 dan ini sudah termasuk tiket pulang-pergi serta paket wisata yang menyertainya.

Serupa dengan hal ini, operasi mata lasik yang di Amerika seharga USD 3,700 di negara-negara lain hanya memakan biaya USD 730. Bedah plastik bahkan lebih ekstrim lain, operasi full facelift di Amerika Serikat membutuhkan biaya USD 20,000 sementara di Afrika Selatan operasi yang sama hanya membutuhkan biaya USD 1,250. Inilah yang menjadi alasan mengapa industri pariwisata dengan layanan kesehatan menjadi trend di dunia.

Singapura, termasuk salah satu negara yang mampu mengemas hal ini dengan sangat baik. Sekalipun kecil dan tidak memiliki kekayaan alam sebagai destinasi unggulan, namun kunjungan wisata ke negara tersebut jauh lebih banyak ketimbang Indonesia yang besar dan memiliki semua keindahan alam. Medical tourism merupakan salah satu konsep yang sudah mereka kembangkan dengan baik selama ini.

Jika saja Indonesia bisa berbenah dalam hal infrastruktur, yang mungkin bisa dimulai dari hal yang kecil-kecil saja di setiap daerah, memenuhi kebutuhan kamar mandi yang tersedia dan dijaga kebersihannya. Kemudian pengembangan teknologi yang  membuat akses berwisata semakin mudah, plus fitur layanan lainnya seperti medical tourism yang dikonsep dengan baik, maka bukan tidak mungkin kita bisa mencapai tujuan sebagaimana ditargetkan pemerintah. Dan menjadikan Indonesia sebagai pusat wisata Asia yang sesungguhnya.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket