Industri Yang Tak Lekang oleh Jaman

Proses digitalisasi di segala bidang berhasil membawa pita kaset dan tape player ke museum lebih cepat. Saat ini hampir tidak ada lagi yang menggunakan teknologi tersebut, sama seperti ketika piringan hitam digeser oleh teknologi pita kaset. Padahal, musisi sangat menggantungkan hidupnya dari dua sumber utama. Pertama, penjualan kaset tape-nya, kedua ketika perform di panggung. Namun revolusi ini, tidak serta merta mematikan mereka yang tetap konsisten berkarya.

Jika berkaca pada sejarah, di tahun 80-an, penjualan album seorang musisi bisa menembus angka 200-300 ribu copy. Ebit G Ade melalui album Camelia-nya merupakan salah satu musisi yang paling laris ketika itu. Di era 90-an, Iwan Fals dengan album Sarjana Muda sukses melambungkan single hits Oemar Bakrie hingga menembus angka satu juta copy. Bahkan ketika krisis moneter terjadi tahun 1997 silam, industri musik nyaris tidak terkena dampaknya. Di era ini, ramai-ramai Sheila on 7, Dewa, Padi, Slank dan Radja menembus 1 juta copy. Dan di era 2000-an Peterpan malah membukukan rekor penjualan 2 juta copy. Jika saja per satu album musisi mendapatkan seribu rupiah saja, maka setidaknya band-band ini membukukan minimal satu miliar hanya dari penjualan albumnya saja.

Fenomena ini juga terjadi di daerah. Satu dekade terakhir industri musik di Bali menggairahkan, khususnya lagu bergenre Pop Bali yang sangat diminati. Ayu Laksmi memulainya di tahun 90-an, wanita dari Singaraja ini menjadi artis Bali pertama yang sanggup go nasional, dijuluki Lady Rocker bersama Nicky Astria. Pasca Ayu Laksmi, industri musik di Bali seolah hilang dari peredaran, baru pada tahun 2003, band Superman Is Dead (SID) kembali menghidupkan nama musisi Bali. Keberhasilan SID melakukan penetrasi pasar berhasil membawa mereka hingga tampil di mancanegara. Inilah trigger bangkitnya industri musik di Bali. Era Berganti Namun saat ini, ketika teknologi mengalami kemajuan, peluang lain dalam industri musik justru muncul dari sisi yang berbeda, bahkan lebih variatif. Penjualan album bukan lagi target utama, bahkan hanya dengan merilis satu single lagu saja, seorang musisi bisa mencapai tingkat popularitas yang tinggi. Saat ini, band seperti D’ Massive, The Rock, dan Samson, mampu mengantongi miliaran rupiah hanya lewat aktivasi ringback tone lagu-lagu mereka, belum lagi dari tarif per sekali manggung. Sementara di satu sisi, dunia televisi berlomba-lomba menayangkan hiburan live music, dari yang pagi hari sampai di jam prime time.

Berdasarkan survei, rating televisi mengalami kenaikan signifikan dengan menampilkan para artis atau musisi tersebut. Demikian pula dengan penjualannya dalam format MP3 atau digital, menjadi bintang iklan, soundtrack film atau sinetron, dan banyak lagi. Inilah era baru industri musik tanah air, menggeliat, dan menjadi tuan dirumah sendiri. Hampir setiap waktu, ada artis-artis baru yang bermunculan menggeser yang lama. Sementara yang baru pun tengah diantri oleh banyak musisi lain yang menunggu peluang dan saat yang tepat bisa naik panggung menggeser yang tengah ada. Kemajuan teknologi digital menjadikan industri di bisnis ini demikian sederhana, terasa mudah, namun tetap menggiurkan.

Bayangkan, jika musisi dulu membutuhkan setidaknya 10 lagu untuk direkam dalam satu album yang nantinya berupa kaset. Proses rekaman dan mixing yang lama dan membutuhkan biaya besar, karena perlengkapannya memang tidak murah, kemudian promosi keliling daerah yang biaya transportasinya mahal dan pembuatan video klip yang juga menghabiskan dana besar. Sekarang, seorang musisi bisa populer bahkan hanya dengan satu single saja. Recording saat ini dapat dilakukan di studio kecil dengan kualitas sudah cukup baik. Distribusinya dalam bentuk digital berformat MP3 dan sejenisnya yang bisa dijual lewat internet dan diputar oleh radio-radio secara gratis. Pembuatan video klip pun ternyata tidak mahal. Untuk durasi 1-3 menit ada yang menawarkan jasa dengan biaya tidak lebih dari 1 juta rupiah dan digarap secara profesional. Televisi pun dengan senang hati menayangkan klip tersebut. Menjualnya di internet pun, nyaris tidak kena biaya. Saat ini, biaya transportasi akomodasi promosi ke daerah-daerah juga sangat murah. Inilah yang kemudian menjadikan bisnis di industri ini menjadi demikian sederhana dan orang beramai-ramai ikut berkecimpung di industri ini.

Belum lagi dari ringback tones, sebelum pemerintah menghentikan layanan jual ringback tones, Samson dengan lagu Kenangan Terindah kabarnya diaktivasi 2.1 juta kali, dan lagu Ruang Rindu dari Letto mencapai 3.2 juta kali untuk dijadikan nada tunggu. Padahal, satu kali aktivasi setidaknya bertarif Rp. 5000 – 7000 / bulan, maka uang yang berputar di RBT untuk satu buah lagu bisa mencapai Rp. 10 miliar. Diperkirakan uang yang beredar di bisnis RBT mencapai lebih dari 1,3 triliun. Wow, hanya untuk nada tunggu yang akan didengarkan orang lain, masyarakat kita membelanjakan dananya hingga mencapai triliunan rupiah.

Namun lepas dari sisi komersialnya, tidak sedikit bermunculan musisi yang berkarya karena idealisme seninya. Sekalipun pasarnya tidak besar, namun mereka sanggup bertahan dan tampil menawan. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Balawan. Pemuda Bali ini dikenal karena kecintaannya pada seni musik tradisional yang dikombinasikan dengan warna modern. Hingga hari ini, Balawan tetap produktif berkarya di tengah ketatnya persaingan di industri ini. Kuncinya, jika mampu merespon perubahan dengan positif, maka untuk tetap bertahan bukanlah misi yang mustahil.

 

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket