Katrol Pariwisata Lewat Festival

Sebelum reformasi, Indonesia selalu mengampanyekan keindahan alam dan warisan budayanya sebagai salah satu sales poin dari pariwisata kita. Sementara negara-negara tetangga yang notabene tidak  “Sekaya” Indonesia, harus puas dengan mempromosikan hal-hal lain yang tidak harus bersaing “head to head” dengan Indonesia. Singapura misalkan, negara kecil ini menajdikan meeting, incentive, convention &exhibition (MICE) sebagai jualan utamanya. Tapi apa yang kemudian terjadi? Dengan segenap kekayaan yang kita miliki, Indonesia tak serta merta kemudian menjadi yang paling jumawa. Kita harus puas berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand dalam jumlah wisatawanya.

Menyadari ada kekurangan, selama satu dekade terakhir pemerintah pun giat mengikuti langkah Singapura dan menggelar sejumalah event-event berkelas untuk memasarkan pariwisatanya. Di setiap daerah pun kompak, hampir semua kota, bahkan yang berkelas dua sekalipun, kini memiliki festival tahunan. Sejumlah kegiatan budaya yang dulunya tradisional, kini dikemas dalam bentuk modern yang menarik.

Ada Rambu Solo, upacara pemakaman leluhur yang telah meninggal. Upacara ini mampu menyedot perhatian turis asing dan wisatawan lokal karena ada rangkaian adu kerbau atau yang biasa disebut Mapasilaga Tedong. Sebelum diadu, dilakukan parade kerbau terlebih dahulu. Kerbau adalah hewan yang dianggap suci bagi suku Toraja. Di Lombok, ratusan orang berduyun-duyun untuk menangkap sekilas pertama Nyale (Ikan Nguler) di festival ini. Yang mana dipercayai bahwa Nyale yang muncul adalah penjelmaan dari Putri Mandalika. Nyale bukan sembarang cacing, tapi binatang laut yang memiliki kandungan gizi yang sangat baik.

Lebih jauh ke timur, ada perang ritual menandai festival panen, Festival Pasola merupakan festival tahunan yang dirayakan masyarakat Sumba Barat saat memulai masa tanam. Dalam perayaan ini , masing-masing kampung akan beradu ketangkasan dengan menunggang kuda sambil melempar lembing ke lawan sampai terluka. Sementara di Jogja, hamparan bulan panjang pertunjukan dan pameran di ibukota budaya Jawa digelar dengan nama Festival Kesenian Jogja. Selain karnival budaya, festival ini juga di isi pementasan kesenian tradisional, musik religius, pementasan seni kolaborasi dan drama tradisional.

Di Bali sendiri, ada Pesta Kesenian Bali yang setiap tahun selalu penuh sesak oleh wisatawan, digelar selama sebulan penuh. Selain pertunjukan seni, ada pula musik dan tarian tradisional, pameran lukisan, seni pahat, kerajinan tangan dan makanan khas dari Bali. Festival ini biasanya digelar pada bulan Juni-Juli. Sementara di akhir tahun, kota Denpasar selama beberapa tahun terakhir juga telah memiliki festivalnya sendiri. Di dapuk dengan nama Denpasar Festival, digelar secara rutin setiap tahun pada bulan Desember.

Ada pula yang digagas oelh orang asing dan menjadi ajang kelas internasional, seperti Ubud Writers & Readers Festival. Bahkan yang tradisional seperti Perang Pandan dan Omed-omedan, kini telah masuk agenda pariwisata dan menjadi nilai jual tersendiri.

Inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa dalam satu dekade terakhir, sejumlah festival, even dan eksebisi secara silih berganti digelar. Pada akhirnya, festival-festival ini pun bukan hanya menjadi daya tarik baru untuk menstimulasi wisatawan hadir, namun juga menjadi proyek komersil yang menguntungkan.

 

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket