Raih Mimpi Lewat Dunia Animasi

LORD OF THE RING BERHASIL MERAIH SEBELAS NOMINASI PADA ACADEMY AWARDS. KATEGORI YANG DIMENANGKAN ADALAH BEST VISUAL EFFECTS, BEST ART DIRECTION, BEST COSTUME DESIGN, BEST DIRECTING, BEST FILM EDITING, BEST MAKEUP, BEST MUSIC (ORIGINAL SONG), BEST MUSIC (ORIGINAL SCORE), BEST SOUND MIXING, BEST ADAPTED SCREENPLAY SERTA BEST PICTURE .

Jika Anda penggemar film, pasti tidak asing dengan trilogi tersukses sepanjang sejarah Lord of the Ring. Total meraih 17 piala Oscar, di mana franchise puncaknya Return of The King, meraih 11 diantaranya dari 11 nominasi. Tapi tahukah Anda bahwa film ini, untuk proses render-nya saja membutuhkan waktu 1 hari per frame [1 detik = 24 frame] yang dikerjakan dengan komputer super mahal seri terbaik.

Ketika tim M&I menggelar event Entrepreneur Festival bulan lalu, kami juga berhadapan dengan situasi ini. Beberapa sesi acara diisi dengan tampilan gambar video animasi singkat, mulai dari opening hingga video profil. Untuk membuat video pendek tersebut, Wahyu dari tim desain kami, membutuhkan waktu hingga berhari-hari hanya untuk proses render. Selama proses ini, komputer hanya digunakan untuk satu fungsi saja, dan dibiarkan terus bekerja tanpa putus. Bahkan mirisnya, salah satu komputer yang digunakan akhirnya meleduk (mainboard terbakar), karena tidak sanggup dipaksa bekerja diluar kapasitas kemampuan.

Render adalah proses membuat gambar menjadi utuh. Semakin detil obyek yang diciptakan, maka render nya akan semakin lama. Animasi 2 dimensi akan lebih mudah di-render daripada yang 3 dimensi atau, yang memiliki tingkat presisi visual lebih detil daripada yang 2 dimensi. Mengejar Lord of The Ring Dalam Film Lord of the Ring, kita melihat bagaimana semua visual yang ditampilkan demikian nyata. Naga dengan kobaran apinya, monster-monster bernama Orc yang tampak buas, bahkan kampung Peri Rivendell yang demikian memukau. Semua itu hanya bisa tercipta dengan motion graphic “tingkat dewa”. Dan tentu saja dengan pengerjaan waktu hingga bertahun-tahun yang melibatkan ratusan orang.

Fantastisnya, The Lord Of The Ring menjadi satu-satunya dalam sejarah piala Oscar dari genre film fantasi yang mampu memenangkan penghargaan ini, dan telah membukukan pendapatan mencapai $ 2,9 miliar dari penayangannya di seluruh dunia.

Sementara biaya pembuatannya tak lebih dari $ 297 juta. Ini artinya, film ini meraih laba hingga $ 2,6 M atau setara dengan Rp. 3,4 T . Jumlah ini, 13 kali lebih besar dari pada penerimaan daerah Kota Denpasar tahun 2014 lalu. Wow!

Sulitnya pengerjaan film animasi menjadikan industri ini padat karya, melibatkan ratusan orang dengan kemampuan teknik tingkat tinggi dalam proses pengerjaannya. Beberapa anak-anak muda bertalenta di Indonesia, banyak yang tercatat pernah terlibat dalam pembuatan sejumlah film-film besar Hollywood seperti seri Transformer. Dan banyak diantara mereka yang hanya kebagian tugas “ringan”. Mereka kadang hanya mengerjakan bagian efek lightning saja, yang durasinya selama beberapa detik selama 6 bulan proses penyelesaiannya.

Industri animasi sendiri telah berkembang di Amerika sejak tahun 70-an, di mulai dari Walt Disney dengan berbagai impiannya. Kemudian diikuti dengan Jepang yang populer lewat komik-komiknya, sebelum akhirnya bertransformasi dalam bentuk film. Praktis, ketika bicara film animasi, maka dua negara itulah yang menjadi kiblat, pemain utama nyaris tanpa pesaing. Selama berdekade, persepsi ini bertahan kokoh. Seolah ingin menyampaikan bahwa industri animasi, sepertinya memang bukan domain negara-negara kecil, seperti Indonesia, yang sebaiknya hanya berkutat dengan agribisnis atau kerajinan tangan semata.

Teknologi terbaik yang mampu kita buat dalam perfilman adalah dengan wayang boneka yang booming tahun 80-an lewat tokoh si Unyil. ”Dikemplang” Upin & Ipin Mahal dan rumitnya proses dalam industri animasi, akhirnya hanya menjadikan orangorang Indonesia yang berminat pada genre ini memilih mengerjakan proyek-proyek kecil. Animasi pendek untuk iklan, opening video tayangan televisi atau yang paling jauh adalah membantu proyek-proyek industri besar dari Amerika dan Jepang. Dan ini cukup untuk membuat hati nyaman dan tenang. Selama bertahun-tahun kita terbuai dengan zona peraduan ini. Namun sejak awal periode 2000-an, seluruh masyarakat perfilman Asia dikagetkan dengan Malaysia, negara tetangga kita ini, mampu memproduksi serial film animasi dengan durasi 30 menit berjudul Upin dan Ipin. Film ini bukan hanya sukses dari sisi visual yang rapi, tapi juga dari sisi cerita yang lekat dengan kehidupan masyarakat melayu. Hanya dalam waktu singkat, Upin dan Ipin menjadi “virus” baru yang digemari tidak hanya oleh anak-anak, namun juga orangorang dewasa dan remaja.

Tidak berhenti disitu, keberhasilan Upin dan Ipin seolah meruntuhkan tembok besar yang mengungkung. Mulailah film-film animasi lain di produksi. Yang mulai meraih perhatian sebaik Upin dan Ipin adalah Bo Bo Boi. Keberhasilan Malaysia, diikuti oleh India. Yang diam-diam juga mampu melahirkan film-film animasi ciamik dan mendapat rating tinggi di Indonesia. Serial Khrisna adalah salah satunya. Invasi film animasi ini, kemudian berdampak luas bahkan ke budaya anak-anak kita. Banyak diantara mereka yang pandai berlogat Melayu, berbicara dengan istilah kata bahasa Malaysia dan menyampaikan gurauan “betul… betul… betul” ala tokoh rekaan dari negeri jiran tersebut.

Kondisi ini, membuat semua pelaku kebijakan publik di negeri ini bak kesambar petir. Shock therapy dari Upin dan Ipin menjadi sengatan yang membangunkan kita dari tidur nyenyak yang nyaman. Kenapa Malaysia yang berjarak beberapa ‘jengkal’ sanggup menari-nari di halaman rumah kita dengan hasil produksi mereka.

Struktur kementrian pun diubah dengan menghadirkan posisi baru “Ekonomi Kreatif”, yang tujuannya khusus untuk mendorong terciptanya atmosfer positif dunia perfilman kita, termasuk diantaranya animasi. Swasta dididorong dengan sejumlah insentif untuk proyek-proyek animasi. Sekolah-sekolah animasi berdiri dan mulai berproduksi. Banyak diantara mereka mendapat bantuan pendanaan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Semua buka mata, gara-gara “dikemplang” Upin dan Ipin.

Kerjaan untuk animator di Indonesia masih sedikit. Kalau pun ada, tetapi dalam hal apresiasi masih kurang. Industrinya belum ada di sini. Saya belum tahu nanti 5 tahun ke depan apakah profesi animator bisa cukup menjanjikan di Indonesia. Kita lihat saja nanti.”

Industri animasi sendiri terus berkembang, dari yang awalnya hanya 2 dimensi, kemudian menjadi 3 dimensi. Belakangan kita bisa menyaksikan sejumlah film dengan format 4 dimensi. Tingkat ketajaman gambar juga semakin presisi dengan high resolution berekstensi Blu-Ray dan setaranya. Kemajuan teknologi ini, menjadikan gambar nyata dan fantasi semakin tipis. Dalam film Lord of The Ring, kita bisa melihat tampilan visual yang seoalah nyata padahal faktanya hanyalah tampilan “green screen” yang ditransformasi dalam tabung komputer menjadi obyek khayalan. Bahkan dalam beberapa scene, banyak peran stuntman yang melakukan adegan berbahaya mulai diganti dengan CGI, atau ribuan pasukan tentara yang hanya berupa manipulasi visual effect.

Berbagai kemajuan ini, membuat kita semakin tertinggal. Padahal sejak suksesnya film-film Doraemon, Dragon Ball, Sinchan dan serial manga Jepang di Indonesia tahun 90an, sudah merupakan clue bahwa industri ini bergelimang peluang. Kita diam sementara Malaysia dan India bergerak mengejar ketertinggalan. Mereka berhasil dan sudah berada jauh di depan, kita baru melek dan mulai memproduksi. Agung Oka Sudarsana, salah satu penggiat industri animasi di Bali belum melihat prospeknya bagi animator lokal berkarir di dalam negeri, bisa sebaik jika berkarir diluar negeri. “Bagi saya, kerja di industri animasi itu sangat cerah sekali, asalkan jangan cari kerjanya di Indonesia. Kalau bisa kerja di luar dulu beberapa tahun, kalau sudah punya networking yang kuat, bisa dikerjakan di Indonesia. Kerjaan untuk animator di Indonesia masih sedikit.

Kalau pun ada, namun dalam hal apresiasi masih kurang. Industrinya belum ada di sini. Saya belum tahu nanti 5 tahun ke depan apakah profesi animator bisa cukup menjanjikan di Indonesia. Kita lihat saja nanti,” ujarnya kepada reporter kami. Memang, saat ini pelan tapi pasti, film-film animasi karya anak negeri mulai diproduksi. Adit dan Sopo Jarwo adalah salah satunya. Sedikit terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita semua berharap, ini adalah awal dari bangkitnya industri animasi di Indonesia, tak terkecuali di Bali.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket