Sandatindo Group – Rancang Aplikasi Pencari Kost di Denpasar

Bayangkan ada sebuah aplikasi mobile yang membantu Anda untuk melacak tempat kost di seluruh pelosok Denpasar. 

Impian tersebut tengah direalisasikan oleh tim Sandatindo Group, sebuah unit usaha yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak dan jasa konsultan IT di Bali. Sejak 2014 lalu mereka mengembangkan sebuah aplikasi mobile berbasis Android dan iOS yang mampu melacak tempat kost incaran para pelajar dan pekerja urban di kota Denpasar. Ide pembuatan dari aplikasi bernama “NgeKost” ini berawal dari kegelisahan para perantau di kota Denpasar, baik yang berasal dari luar kota maupun luar pulau, di mana sering kali kesulitan menemukan tempat kost yang sesuai dengan keinginan mereka.

“Pada dasarnya ini bermula dari pengalaman pribadi saya maupun temanteman yang berasal dari luar kota Denpasar, di mana mereka harus menetap di sini, tapi enggak punya rumah. Saat ingin mencari kost di Denpasar juga sering kesulitan. Saya jadi harus mengecek satu per satu tempat kost, untuk tahu lokasi, kondisi, dan fasilitasnya bagaimana, “ ungkap Ade
Saputra, salah satu dari tim Sandatindo.

Bukan hanya pencarian lokasi tempat kost yang jadi persoalan, tetapi juga kesulitan para calon “anak kost” untuk bertemu dengan si pemilik kost itu sendiri. Ini yang membuat mereka bingung bagaimana caranya membuat “deal” dengan si pemilik kost yang sering tidak bisa ditemui di tempat. “Kita jadi sulit mau ngasik DP. Si pemilik kost sibuk, tidak ada di tempat. Pas balik lagi esok atau dua harinya, kamar kost yang kita inginkan tersebut ternyata sudah terjual untuk pembeli lainnya,” sambung Ade.

Menurut Chandra Kusuma, salah satu anggota tim Sandatindo, aplikasi “NgeKost” ini sangat praktis lantaran sudah terintegrasi dengan perangkat smartphone. Pengguna hanya cukup membuka aplikasi ini lewat ponsel pintar mereka serta secara bersamaan mengaktifkan sistem GPS-nya. Dalam radius 5 km, aplikasi ini pun mampu melacak beberapa titik kost-an yang berada di lokasi sekitar pengguna. “Di aplikasi tersebut akan muncul informasi yang mencantumkan apakah beberapa kost-an masih available atau sudah full. Jadi kita enggak perlu repot masuk kost-kost itu satu per satu. Oleh karena itu, sebenarnya kita butuh kerjasama dengan pemilik kost untuk tahu status kost mereka,” terang Chandra.

Hal itulah yang membuat aplikasi “NgeKost” tidak hanya bermanfaat untuk para pencari kost, tetapi juga bagi para penyedia kost. Ternyata, ada juga beberapa penyedia kost yang susah mencari pembeli. Padahal di luar sana banyak pencari kost. Itu juga yang membuat Sandatindo mengemas aplikasi “NgeKost” layaknya sebuah online booking hotel ala situs Agoda. “Jadi nanti kita ingin menarik para pemilik kost untuk memanfaatkan aplikasi. Kita akan bekerjasama dengan mereka,” jelas Chandra.

Pemuda lulusan S1 Ilmu Komputer Universitas Udayana ini juga mengatakan bahwa aplikasi ini juga bisa jadi promosi yang efektif untuk para pebisnis kostan, karena memiliki fitur chart yang memungkinkan kost-an bersangkutan berada di posisi teratas dalam daftar kost di aplikasi mereka. “Aplikasi ini sebenarnya gratis, tapi rencananya kita akan menarik pembayaran dari fitur chart ini. Dengan membayar sejumlah dana, si pemilik kost bisa menaikan rating kost-annya di aplikasi ini, sehingga kost-annya bisa lebih banyak yang lirik oleh pembeli,” papar Chandra.

Aplikasi “NgeKost” belum resmi dirilis untuk umum, namun Sandatindo telah memastikan aplikasi versi beta-nya sudah bisa dijalankan. “Kita masih berusaha menyempurnakannya. Untuk sementara, beberapa data kost sudah kita input. Aplikasinya juga sudah running untuk sistem search location-nya, tapi untuk real data-nya masih belum,” terang Ade. Rencananya tim Sandatindo juga akan memasukan sistem payment processor yang memungkinkan pencari kost untuk membayarkan sejumlah DP kepada si penyedia kost.

Untuk saat ini, Sandatindo masih fokus mengumpulkan data sejumlah kost di kawasan Denpasar. “Tapi kita tidak menutup kemungkinan akan meng-cover seluruh kost di Bali. Kami berencana bekerjasama dengan startup lain dalam hal pengumpulan data,” tutur Ade.

SEHARUM SANDAT

Ade dan Chandra mengungkapkan embelembel nama “sandat” pada brand usaha mereka dimaknai agar nama Sandatindo Group juga seharum layaknya bunga sandat itu sendiri. Selain itu, mereka juga ingin mengangkat nama Bali lewat ikon bunga sandat tersebut. Sandatindo Group sejatinya didirikan oleh sebelas pemuda yang memilki passion serupa di bidang teknologi informasi.

“Berawal dari teman-teman yang sering menangani project secara mandiri, namun kerap mendapatkan harga yang tidak sesuai. Bahkan banyak yang bersifat harga teman. Itu yang membuat kami berpikir
untuk berkumpul membuat satu unit usaha biar kita bisa kerja bareng dan menunjukan profesionalitas kita,” ujar Chandra.

Sandatindo Group fokus mengembangkan bisnisnya sebagai konsultan IT yang menangani proyek sistem jaringan dan website developer. Pengalaman mereka juga tidak bisa dipandang sebelah mata, karena sudah akrab menangani proyekproyek dari perusahaan besar. “Terakhir proyek besar yang kami tangani berasal dari sebuah maskapai penerbangan perintis. Tim kami membantu dalam hal jaringan IT nya, baik yang menyangkut sistem kantor, sistem marketing, hingga integrasi data antar cabang kantornya,” kata Ade.

Bergabungnya Sandatindo ke dalam inkubasi bisnis Balai Diklat Industri Denpasar lewat produk startup mereka “NgeKost”, dimaksudkan untuk memperkaya wawasan mereka tentang pengembangan bisnis untuk startup itu sendiri. “Kita ini kan orang teknis, enggak tahu banyak tentang cara menjual produk. Bagaimana cara menentukan target pasar, cara pendekatan dengan klien. Di sini tempat kita belajar untuk mengembangkan bisnis dan sebagai wadah untuk memamerkan produk kita nanti,” ucap Chandra.

Ade, Chandra, dan kawan-kawannya di Sandatindo Group berharap usaha mereka bisa berkembang dan menjadi IT Solution yang besar di Bali, serta mendapatkan project baru yang lebih menantang skill mereka. “Kita banyak punya ide baru yang masih berupa prototype, tapi belum dikembangkan lebih lanjut karena kita harus riset dari segi bisnis dan target pasarnya. Jadi sekarang fokus di “NgeKost” dulu,” pungkas Ade mengakhiri wawancara dengan Money & I Magazine di Balai Diklat Industri Denpasar.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket