Simon Purwa – Grow With Business Around Him

Industri pariwisata mengalami perkembangan yang pesat selama beberapa dekade terakhir, khususnya di Bali yang memang merupakan destinasi internasional. Namun sekalipun demikian, bukan berarti pariwisata menjadi industri yang mudah untuk digeluti. Banyak perusahaan yang gagal berkembang, terlebih ketika periodisasi awal munculnya Bali sebagai salah satu tujuan wisata favorit. Salah satu yang sanggup bertahan dan bahkan menjadi pioner di industri ini adalah KCBJ Tours. Start up sejak tahun 1983 ketika jumlah kedatangan wisatawan belum banyak di Bali, kemudian berkembang dan mengalami diversifikasi produk yang beragam, hingga memiliki lebih dari 100 orang karyawan, bahkan saat ini pengelolaannya sudah dialihkan ke generasi kedua, tidak berlebihan untuk menyebut KCBJ tours sebagai leader di industri ini. Apa yang menjadi tipping point dari perusahaan ini hingga mampu bertahan dan bahkan meraih berbagai prestasi saat ini, Simon Purwa, putra kedua dari Al Purwa perintis bisnis ini, menceritakannya kepada reporter M&I Arif Rahman dan Anton HPT. Yang juga memberikan gambaran bagaimana secara historis industri pariwisata mengalami perkembangan di pulau Dewata ini.

Bagaimana awalnya perjalanan bisnis ini dirintis?

Awal ceritanya cukup panjang, KCB Tours sendiri sebagai sebuah bisnis sudah berdiri sejak tahun 1983, dan masuk asosiasi keanggotaan IATA sejak tahun 1984, jadi bisa dibilang kita termasuk sedikit bisnis tour travel saat itu yang mengawalinya dengan konsep modern untuk lokal Bali. Kita justru memiliki kompetitor dari nama-nama besar bisnis tour & travel yang berasal dari Jakarta. Dan kita termasuk yang masih bertahan sampai saat ini, dari beberapa usaha sejenis yang berdiri saat itu.

Konsep modern? Apakah ini ada kaitannya dengan no telp internasional yang saya dengar dimiliki pertama kali oleh KCBJ Tours?

Iya, bisa dibilang itu stepping stone kita, jadi begini, kalau dulu komunikasi sambungan langsung jarak jauh tidak seperti sekarang, SLJJ relatif sulit. Kalau kita mau telepon ke Sanur misalkan, kita mesti telepon ke operator di airport dulu untuk minta disambungkan, jadi nggak seperti sekarang yang komunikasi itu bisa dilakukan dengan mudah. Dan untuk memiliki sambungan line international juga nggak gampang, awalnya kita bisa punya line tersebut saat presiden Amerika Reagen [Ronald Reagen.red] datang ke Bali dan menginap di Nusa Dua Beach Hotel, dia minta di hotel tersebut dipasangkan satu line international, dan itu satu-satunya telepon internasional direct line yang ada, dan hotel setempat memenuhinya dengan memasang line international dengan nomer awal 777 itu.

Setelah presiden Reagen pulang, line telepon internasional itu dijual oleh pihak hotel, dan Bapak saya lah yang memberanikan diri membelinya. Dengan harga yang cukup tinggi untuk saat itu, mungkin kira-kira samalah dengan harga sebuah mobil. Namun dengan satu line itu, kita jadi punya dial internasional langsung satu-satunya di industri tour travel di Bali, dari sinilah kami berkembang menjadi penghubung internasional. Jadi teknologi terbaik saat itu untuk komunikasi jarak jauh, baik untuk telepon maupun fax pertama kalinya, dan satu-satunya cuma kami yang punya. Dengan keunggulan inilah kita bisa mendapatkan begitu banyak tamu dan relasi.

Pada jaman itu juga belum banyak tamu yang datang ke Bali sudah membeli tiket kembali ke negara mereka. Biasanya mereka datang, baru setelah tiba di Bali mereka kemudian membeli tiket untuk kembali ke negaranya. Dengan sambungan internasional ini, maka kita satu-satunya yang bisa melayani tamu yang mau membeli tiket langsung kembali dari negara mereka.

Positioning KCB Tours menjadi kuat saat itu, nomer itu masih digunakan?

Nomer itu jadi nomer fax kita sekarang.

Bagaimana ayah Anda terjun kebisnis ini, padahal saat itu prospek pariwisata belum secerah sekarang?

Bapak saya bekerja sebagai guide waktu itu, pernah juga jadi waiter dan berbagai profesi lain yang berkaitan dengan hospitality, pernah juga bikin usaha dengan teman-temannya. Waktu itu bapak sewa tempat di Kuta ini, cuma bukan dilokasi sekarang, tapi ke arah pantai [sebelah kantor BCA Kuta saat ini], untuk penjualan tiket pesawat. Teman-temannya saat itu banyak yang mempertanyakan keputusan ini, kenapa kok buka usahanya jauh dari daerah kota, malah di Kuta yang saat itu masih sepi. Tapi sekarang kita sangat bersyukur karena lokasi usaha kita ada di Kuta ini.

Bagaimana dengan brand yang dikembangkan, karena sebelumnya yang kami dengar bukanlah KCBJ Tours, tapi KCB Tours?

Ya, itu ada ceritanya juga. Jadi sebenarnya kalau berdasar badan usaha, nama PT kita adalah Kuta Cemerlang Bali Jaya, dan kalau disingkat jadinya KCBJ Tours, tapi karena dulu pengucapannya dipermudah, maka orang lebih gampang mengejanya dengan 3 huruf saja, yakni KCB Tours, makanya sering disebut KCB, dan kita berjalan dengan sebutan nama itu. Namun di tahun 95-an kita ada problem, dimana salah satu perusahaan di Bandung menghubungi kita dan mengatakan bahwa nama KCB sudah dipatenkan.

Perusahaan itu memiliki domain yang sama?

Totally different, dan mereka meminta kita harus membayar sejumlah uang jika mau menggunakan brand itu. Padahal nama KCB sendiri nggak menasional sekali, kalau di Bali mungkin orang kenal, tapi kalau secara nasional belum sebesar itu. Dan kebetulan nama PT kita memang ada inisial J nya untuk kata Jaya, makanya sekarang kita coba perkenalkan dengan nama KCBJ Tours, tetapi karena mindset orang yang masih ingat KCB saja, makanya kita sering berkelakar, kalau ada yang tanya, kok sekarang ganti nama dari KCB ke KCBJ Tours, ya kita bilang saja karena sekarang KCB sudah semakin Jaya ha..ha..

Ya.. hal yang sama juga pernah terjadi dengan brand kita dari yang dulunya Money & You menjadi  Money & I. So, Anda saat ini mewarisi bisnis yang dirintis oleh ayah, bagaimana Anda melihat sosok beliau?

Saya memposisikan diri sebagai follower yang baik, karena menurut saya kita nggak akan bisa jadi leader yang baik, kalau belum jadi follower yang baik. Bapak bisa dibilang sebagai idola bagi saya, dan ini saya lakukan agar saya juga bisa jadi leader yang lebih baik.

Banyak orang bilang, mewarisi bisnis yang sudah dirintis dari generasi pendahulu itu lebih mudah, namun bagi saya pribadi justru sebaliknya, banyak usaha yang justru gagal ketika beralih ke generasi berikutnya, bagaimana dengan Anda?

Generasi kedua itu harus inovatif, karena perubahan itu selalu ada, jadi tantangannya adalah bagaimana kita bisa inovatif agar bisa beradaptasi dengan perubahan itu. Kita ambil story dari line telepon internasional itu, bapak memberanikan diri membeli line tersebut dan menjadikan kita sebagai satu-satunya yang memiliki line tersebut. Tapi sekarang telepon dan fax bukan teknologi baru, malah sudah out of date, sekarang kita gunakan email, dan sekarang email pun, sudah ketinggalan jaman, karena sekarang kan jamannya mobile internet. Disinilah saya kemudian mengembangkannya, dengan memiliki divisi khusus untuk pengelolaan IT, itu sebabnya perubahan itu harus di ikuti, dan menjadi challenge bagi kita. Saya sendiri lahir dan besar di Bali, dan sekolah dari SD sampai kuliah juga disini, angkatan tahun 1999 di Udayana ekonomi manajemen. Sebelum tamat saya sudah terjun di bisnis ini walaupun belum aktif, setelah tamat baru terjun aktif, namun efektif baru tahun 2007 saya mengambil operasional. Bapak sudah pasif saat ini dioperasional dan lebih banyak meluangkan waktu di organisasi seperti Rotary Club. Saya mencintai pariwisata karena lahir dan besar di Bali ini, dan bagi saya itu berkah, walaupun saya juga memiliki passion pada hal-hal yang lain.

Dalam perjalanan perkembangan perusahaan, dengan perubahan yang terus terjadi, diversifikasi apa yang sudah dilakukan KCBJ Tours?

Dulu awalnya memang core kita ticketing, tapi kita juga melihat perkembangan bahwa orang Bali sendiri sudah memiliki disposible income, itu sebabnya kita mulai mengembangkan divisi outbond untuk mereka yang mau traveling keluar, ada juga villa dan transportasi, termasuk tim yang handling events. Semua dikelola disini dengan divisi-divisi yang berbeda, dan prinsip diversifikasi kita yang controllable, sehingga diversifikasi produk tersebut ada range nya, sekalipun semakin bertambah, namun masih bisa di manage, dan semua produk kita itu basic-nya tetap bagian dari industri pariwisata.

Jadi perkembangannya bertahap, untuk ticketing dengan nama KCBJ Tours mulai tahun 1983, kemudian ada pengembangan untuk transport company nya, itu untuk tours, awalnya kita kerjasama dengan perusahaan lain, tapi sejak tahun lalu kita coba kelola sendiri dengan manajemen yang independent, serta kita mengganti dengan brand sendiri yakni MTrans. Tahun 1996 kita mendirikan Cempaka Belimbing Villas, yang sudah mendapatkan Emerald Award Tri Hita Karana, itu artinya kita sudah 3 kali Gold dan sudah tidak diperkenankan lagi untuk ikut kompetisi, karena menang terus. Kemudian ada KCB Convex, yakni event management, bergeraknya di Jakarta, disini kita supporting saja, itu mulai dari tahun 2008. Terakhir kita punya The Experience, adventure tour dengan Land Rover.

Bagaimana dengan perkembangan dari jumlah karyawan?

Jumlah karyawan awal sekali mungkin sekitar 3-4 orang, sekarang 54 orang untuk di KCBJ Tours saja yang berkantor disini, kalau sama company lain dari diversifikasi kita, maka total dalam satu grup sudah sekitar 100 an orang.

Dengan perkembangan ini, nampaknya sudah siap untuk naik ke level yang lebih tinggi, mendirikan cabang lain mungkin?

Banyak yang tanya soal ini, dan kita sudah beberapa kali pernah mencoba membuka cabang, namun untuk saat ini masih belum karena KCBJ Tours itu perusahan keluarga, yang secara internally kita mengangkat karyawan dengan hubungan kekeluargaan, kita mencoba membawa perusahaan ini ke level dimana kita bisa nyaman. Kalau kita besar dan menjadi korporasi, justru bisa membuat kita tidak nyaman, kita memang harus terus bertumbuh. Kita sebenarnya seperti sudah stage group holding, tapi kembali lagi kekonsep family business tadi, kita tidak mau yang terlalu struktural. Saat ini reporting dari karyawan juga nggak perlu resmi-resmi banget, tinggal datang dan ngobrol, saya nggak mau kalau menjadi terlalu struktural. Jadi kita ingin grow in the controllable way, keep small dulu, kita jalan dulu dari baby step dan step by step, jangan jump apalagi untuk family business seperti kita. Tapi mungkin saja nanti kita ke arah sana. IPO mungkin di generasi ke tiga ha..ha..

Dengan perkembangan teknologi saat ini, maka sistem penjualan tiket saat ini sudah bisa dilakukan oleh perseorangan, atau agency kecil. Belum lama ini saya mendapat tawaran menjadi agency tiket dengan modal awal hanya Rp. 2.500.000, dan beroperasi dengan modal sebuah laptop saja. Hal ini menjadikan persaingan kian ketat. Bagaimana Anda melihat ini?

Betul sekali, dengan perkembangan teknologi dan semangat entrepreneurship saat ini, maka persaingan menjadi lebih sulit, karena sekarang semua orang bisa jadi independen agen. Tentu saja mereka kompetitor, tapi kita juga harus jeli, karena mereka juga peluang. Kita ini kan agennya resminya airlines, kita juga harus bergerak untuk merangkul mereka, menjadikan mereka distribution chain. Sehingga saat ini, ada independen agen yang secara parsial menjadi kompetitor, tapi ada juga yang justru support kita. Mereka menjadi distribution channel perusahaan kita, ini ibaratnya hanya perubahan model bisnis saja karena perkembangan teknologi. Kalau dulu itu 90% business modelnya Business to Customer, sekarang menjadi Business [agency ticketing besar] to Business [agency ticketing independen yang relatif kecil], yang nantinya bisa jadi modelnya akan menjadi B to B to C. Jadi betul mereka kompetitor, tapi kalau bisa kita rangkul, mereka jadi peluang, misalkan ada market yang tidak bisa kita jangkau, dengan kehadiran mereka justru bisa kita jangkau. Perluasan network jadinya.

Apa kendala yang di hadapi saat ini?

Ya mungkin soal pembayaran, karena di Indonesia semua transaksi belum di atur harus menggunakan rupiah.

Dalam logo KCBJ Tours, ada simbol senyuman, apa yang ingin disampaikan lewat logo tersebut?

Pariwisata adalah bisnis jasa, karena kita nggak jual barang, maka service jadi poin penting. Orang tidak hanya sekadar beli tiket, kita coba memberikan lebih, pada saat orang ingin pergi dari Bali ke Jakarta, kita nggak tahu tujuannya ke Jakarta untuk apa, sifatnya bisnis urgent atau hanya liburan. Karenanya kita memberitahu mereka dengan informasi yang lengkap. Kita berikan opsi, perbandingan jam dan harga tiket misalnya, maka sedikit tidak itu bisa menjadi nilai tambah. Itu sebabnya logo kita senyuman, service with a smile, tag line informal yang terus kita angkat. Jadi kalau ada karyawan yang merengut, masak kalah dengan logo diseragam mereka.

Apa yang Anda lihat dari perkembangan industri pariwisata saat ini?

Kita harus terus inovatif, dalam arti mengikuti perkembangan, kita juga sudah harus mulai diversifikasi, karena industri pariwisata itu kan luas, kita bicara Bali, merupakan destinasi internasional. Itu sebabnya ditengah perubahan dan perkembangan bisnis ini, kita juga harus melakukan diversifikasi.

Apakah kerap terlibat dengan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata khususnya Bali?

Hubungan dengan pemerintah selalu ada, yang sering kita lakukan exhibition, kita aktif di kementrian seperti ke London atau Singapura dengan mereka untuk mempromosikan Bali, hasilnya cukup baik. Perkembangan industri pariwisata di Bali juga signifikan dengan kontribusi pemerintah. Walalupun masih ada hal lain yang kita harapkan bisa dilakukan lebih oleh pemerintah, karena negara lain saat ini promosinya gila-gilaan. Saya pikir event internasional di Indonesia masih bisa diperbaiki jika kita refleksi apa yang sudah kita lakukan.

Terima kasih atas waktunya dan sukses terus KCBJ Tour.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket