Tak Terbatas Keterbatasan

Sebuah selempang menjadi teman baru Ananda Ade Qisthi sejak penghujung 2013 lalu. Selempang itu turut membalut tubuh jenjangnya yang kerap mengenakan pakaian bermotif endek atau busana kebaya sekalipun di beberapa kesempatan khusus. Bersama selempang itu pula, ia ikut mengambil peran dari satu kegiatan sosial ke kegiatan sosial lainnya. Lantaran selempang bertuliskan “Putri Tuna Rungu 2013” itulah, pengalaman-pengalaman ‘emas’ menghampirinya.

Nanda, begitu sapaan akrabnya tak pernah menyangka terpilih sebagai yang terbaik di ajang Pemilihan Putra Putri Tuna Rungu Bali 2014. Talentanya di bidang modeling membuat perempuan dengan tinggi 170 cm itu memberanikan diri untuk turut berpartisipasi. “Saya sudah berkecimpung di dunia modeling sejak SMP. Saya juga suka dengan tata rias kecantikan. Ikutan ajang ini sebenarnya hanya iseng-iseng saja. Ade Wirawan, Mister Deaf Asia 2012 yang juga teman karib saya serta orang tua juga sangat memotivasi saya untuk ikut ajang ini,” terang dara yang pernah menyabet predikat pertama dalam Lomba Tata Rias Tingkat Provinsi Bali 2012.

Bagi perempuan kelahiran Denpasar, 2 Mei 1995 ini Pemilihan Putra Putri Tuna Rungu bukan sekadar ajang unjuk talenta dan intelektualitas. ”Ajang ini banyak memberi kesempatan kepada para disable untuk maju mengembangkan bakat masing-masing. Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang bisa Nanda gali dan Nanda pelajari di sini,” jelasnya.

Tak hanya terhenti di ajang tingkat daerah tersebut, Nanda juga mengukir prestasinya di Pemilihan Putra Putri Tuna Rungu Indonesia 2014 sebagai perwakilan Bali. Gelar Runner Up 2 pun berhasil dikantonginya. “Alhamdulillah, lima hari selama karantina Nanda banyak belajar dan latihan terus. Karena persaingan juga cukup ketat jadi Nanda harus benar-benar usaha agar dapat penilaian terbaik dari dewan juri,” kata gadis yang berdomisili di bilangan Buana Raya Padang Sambian Denpasar ini.

Keterbatasan dalam diri Nanda tak pernah membuat ia patah semangat untuk mengejar mimpimimpinya. Nanda selalu berpikir positif untuk bisa menanamkan kepercayaan dalam dirinya. Ia tidak pernah merasa dirinya berbeda dengan orang lain. “Nanda cukup percaya diri, dan Nanda tidak pernah merasa beda. Manusia semua sama dihadapan Allah. Ya mungkin karena Nanda tidak dengar jadi saat ngobrol terkadang tidak nyambung. Ya itu saja sih masalahnya, tapi lama-lama juga mengerti,” papar dara yang pernah meraih Juara I Tuna Rungu Berbakat 2014.

Putri kedua dari dua bersaudara ini mengatakan bahwa kedua orang tuanya baru menyadari keterbatasan Nanda tersebut, saat ia masih berusia 3 tahun. “Kata mama papa, waktu kecil saya tumbuh sehat dan terlihat normal seperti anak-anak kebanyakan. Namun, ada satu yang mengganjal saat itu ialah Nanda mengalami keterlambatan berbicara. Orang tua mulai curiga, kemudian segera membawa saya ke dokter T.H.T. Di situ baru ketahuan kalau saya ada gangguan pada pendengaran. Jadi saya tuna rungu semenjak saya lahir,” terang siswi SMALB Negeri Sidakarya, Denpasar ini.

Meski kini, Nanda menikmati hobi modeling bukan berarti ia tak punya mimpi yang lain. “Saya sih maunya kerja kantoran, kalau sudah enggak bisa jadi model lagi,” candanya.

Related News

Leave a Reply

Powered By. Penerbang Roket