MENU

by • March 18, 2021 • Startup JournalComments (0)68

The Night Journey

Mendebat Para Rasionalis (The Science of Interstellar)

Memang tak banyak yang meyakini waktu pastinya, namun setiap Rojab, kita meliburkan diri untuk menapaki peristiwa Al Isra’ wal Mi’raj, yang dikeseharian, berlafal Isra’ Mi’raj.

Namun yang pasti, momennya tak lama setelah Rasulullah ﷺ ditinggalkan istri dan paman yang selama ini menjadi pendukung dakwahnya. ‘Holiday travel’ adalah cara Allah menghibur, di mulai dengan transit ke Al Aqsa, berlanjut ke Sidratul Muntaha. Bersua dengan para ‘tetua lama’ yang berkhidmat untuk umat. Semua berlangsung hanya semalam, kisah yang kemudian ia tuturkan kepada para sobat setelahnya.

Kabarnya, tak sedikit dari mereka yang menanggalkan Islam karena rasionalitasnya yang meraja, namun banyak pula yang justru semakin dalam keimanannya sebagaimana Abu Bakar sang penerus khalifah. “Bahkan lebih dari itu pun yang diceritakan oleh Muhammad, aku tetap percaya,” ujarnya yang membuat kita mahfum kenapa berlekat Ash-Shiddiq.

Bicara fisika dan geografi dengan hukum gerak dan jelajahnya, maka cerita Muhammad menjadi bualan siang bolong. Mekah dan Al Aqsa berjarak 1500 Km, butuh 40 hari dengan Unta untuk menempuhnya di masa itu. Belum lagi soal menuju langit ke 7? Sementara Rasulullah ﷺ, melakukannya dalam semalam, bukan hanya perjalanan spirit, namun juga fisik sebagaimana diyakini banyak ulama.

Dalam konteks iman dan metafisika, ini solid, tak laik lagi dipertanyakan. Namun dalam rasionalitas, ini menarik digendrangkan. Karena transportasi tercepat ala Elon Musk pun tak sanggup melakukannya. Namun hipotesa Einstein dengan E=mc2 nya yang kemudian dielaborasi oleh Stephen Hawkin, menunjukkan banyak hal.

Einstein meyakini, waktu berjalan lebih cepat ketika semakin menjauh dari pusat bumi, karena gaya gravitasi yang semakin kecil.

National Institute of Standards and Technology di Colorado mengujinya, menggunakan jam paling akurat di dunia, mereka menemukan bahwa berada di tempat yang lebih tinggi (jauh dari pusat bumi) akan membuat usia seseorang berjalan lebih cepat.

Konsep ruang waktu bukan soal dimensi atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang yang saling terpisah. Justru, ruang-waktu erat terhubung dan berpaut. Di mana ruang yang membengkok atau meregang, akan memengaruhi waktu. Proses meregangnya ruang-waktu, adalah penyebab atas terjadinya gravitasi.

Dalam science fiction Interstellar, yang digagas dari pemikiran Thorne, Kip (perain Nobel Fisika) lewat bukunya The Science of Interstellar. Ditunjukkan bahwa teori Wormhole memungkinkan sesuatu berpindah dengan cepat antar galaksi dan alam semesta. Berjalannya waktu di satu planet, bisa berbeda dengan planet lainnya. 

Belum lagi soal galaksi, kita hidup di Bima Sakti, yang merupakan 1 dari sekitar 170 miliar galaksi lainnya yang teramati. Dan Galaksi bukanlah struktur semesta terbesar? Masih ada yang lebih besar, seperti Boss Great Well, seluas lebih dari satu miliar tahun cahaya dengan 830 galaksi. Bahkan yang paling masif, kabarnya bernama Superclusters yang diisi ratusan hingga ribuan galaksi,.

Bahkan ada pula struktrur terbesar yang ditemukan bernama Eridanus Supervoid, ruang kosong yang misterius dengan 10.000 galaksi yang hilang.

Pada akhirnya, bicara perjalanan 1 malam menuju langit ke 7, secara ilmiah, adalah hal yang memungkinkan terjadi. Keterbatasan nalar manusia di masa sekarang –dan masa ketika perjalanan ini dilakukan, yang memantik ragu menjadi keniscayaan.

Dan sebagaimana misi Al Isra’ wal Mi’raj untuk perintah solat, dengan seruan adzan untuk mengajak kita pada solat dan kemenangan, maka dengan “La haula wala quwwata illa billa” kita menjawab. Proses menuju kemenangan yang layak untuk diperjuangkan.

Image : www.freepik.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *